Selasa 23 Mar 2021 19:03 WIB

SMRC: 8,4 Persen Warga Pernah Dapat Ajakan Tolak Vaksinasi

Survei SMRC menunjukan 8,4 persen warga pernah mendapat ajakan tolak vaksinasi Covid.

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Bayu Hermawan
Direktur Riset SMRC Deni Irvani.
Foto: Dok. Tan
Direktur Riset SMRC Deni Irvani.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survei terbaru terkait vaksinasi Covid-19. Berdasarkan hasil survei, ditemukan ada 8,4 persen warga yang pernah mendapatkan ajakan untuk menolak vaksinasi Covid-19.

Direktur Riset SMRC Deni Irvani mengungkap hasil survei bahwa mayoritas atau 91,3 persen warga mengaku tidak pernah menerima ajakan untuk menolak vaksinasi Covid-19. "Kemudian 8,4 persen persen mengaku pernah menerima ajakan untuk menolak vaksinasi Covid-19," katanya saat konfetensi virtual Survei opini publik nasional SMRC bertajuk "Sikap dan Perilaku Warga Terhadap Vaksin", Selasa (23/3).

Baca Juga

Deni melanjutkan, sementara sebanyak 0,3 persen mengaku tidak tahu atau tidak bisa menjawab. Ia menambahkan, meski proporsi warga yang diajak untik menolak vaksinasi Covid-19 tidak terlalu besar, ajakan untuk menolak vaksinasi berdampak negatif terhadap intensi warga untuk melakukan vaksinasi. Oleh karena itu, ia meminta harus ada upaya untuk menekannya agar tidak membesar.

"Edukasi tentang pentingnya vaksinasi perlu ditingkatkan, khususnya pada warga laki-laki, usia muda, dan berpendidikan lebih rendah," ujarnya.

Sebab, Deni melanjutkan, cukup banyak warga yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Padahal, dia menambahkan, upaya untuk mengatasi wabah Covid-19 harus didukung oleh kepatuhan warga yang menjalankan protokol kesehatan.

Survei bertajuk "Satu Tahun Covid-19: Sikap dan Perilaku Warga Terhadap Vaksin" dilakukan selama kurun waktu 28 Februari sampai 8 Maret 2021. Pertanyaan mendasar yang ingin dijawab dalam survei tersebut terkait bagaimana intensi warga untuk melakukan vaksinasi. 

Kemudian ada empat pertanyaan lainnya yang diajukan. Pertama, siapa yang mau dan tidak mau divaksin? Kedua, bagaimana tingkat kepercayaan warga terhadap vaksin yang disediakan pemerintah? Ketiga, bagaimana sikap warga pada umumnya terhadap Covid-19? Keempat, seberapa taat warga menjalankan protokol kesehatan.

Survei menggunakan metodologi populasi adalah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilu, yakni mereka yang sudah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan. Dari populasi itu dipilih secara random (multistatge random sampling) sebanyak 1.220 responden.

Response rate atau responden yang dapat diwawancarai secara valid sebesar 1.064 atau 87 persen. Kemudian margin of error rata-rata survei sampel tersebut yaitu sebesar 3,07 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement