Kamis 28 Jan 2021 02:10 WIB

BMKG Peringatkan Nelayan Waspadai Gelombang Tinggi dan Rob

Ketinggian gelombang laut yang dapat mencapai 2,5 hingga 4,0 meter.

Rep: lilis sri handayani/ Red: Hiru Muhammad
Nelayan menyiapkan alat tangkap cantrang sebelum melaut di Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, Ahad (24/1/2021). Nelayan cantrang di daerah tersebut mulai melaut setelah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperbolehkan penggunaan Alat Tangkap Ikan (API) jenis cantrang.
Foto: ANTARA/Dedhez Anggara
Nelayan menyiapkan alat tangkap cantrang sebelum melaut di Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, Ahad (24/1/2021). Nelayan cantrang di daerah tersebut mulai melaut setelah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperbolehkan penggunaan Alat Tangkap Ikan (API) jenis cantrang.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU--Nelayan dan masyarakat di pesisir Kabupaten Indramayu diimbau untuk mewaspadai gelombang tinggi dan banjir rob di perairan utara Jawa. 

Forecaster Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kertajati Kabupaten Majalengka, Ahmad Faa Izyn, menjelaskan, imbauan itu disampaikan oleh BMKG Kedeputian Bidang Meteorologi. "Gelombang tinggi dan banjir pesisir (rob) di perairan utara Jawa itu pada 27 - 29 Januari 2021," ujar Faiz kepada Republika, Rabu (27/1).

Faiz menjelaskan, selama kurun waktu tersebut, angin dengan kecepatan cukup tinggi (9 - 46 km/jam) yang berhembus konsisten di Laut Jawa mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di perairan utara Jawa. Yakni, dengan ketinggian gelombang yang dapat mencapai 2,5  hingga  4,0 meter.

Faiz menambahkan, kondisi itu diperparah dengan adanya aktivitas bulan purnama yang berpengaruh terhadap kondisi pasang air laut maksimum. Hal itu berpotensi menyebabkan banjir pesisir (rob) di beberapa wilayah pesisir utara Jawa.

Faiz menyebutkan, ada tujuh kabupaten/kota yang berpotensi mengalami kondisi tersebut. Selain Kabupaten Indramayu, juga di Jakarta Utara, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Brebes, Kabupaten Pekalongan, Kota Semarang dan Kabupaten Demak.

Faiz menjelaskan, gelombang tinggi itu dapat berdampak pada terganggunya kegiatan terutama pada sektor perikanan tangkap, transportasi, aktivitas petani garam dan perikanan darat. Aktivitas bongkar muat kapal di pelabuhan juga harus memperhatikan kondisi tersebut."Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan siaga untuk mengantisipasi dampak dari banjir pesisir," kata Faiz.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Indramayu, Dedi Aryanto, menjelaskan, sebagian besar nelayan tradisional di Kabupaten Indramayu saat ini tidak bisa melaut akibat gelombang tinggi. Hal itu terutama dialami nelayan di pesisir utara, mulai dari Ujunggebang sampai Pabean Ilir.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement