Selasa 10 Nov 2020 17:52 WIB

Slamet Rahardjo: Teknologi Jangan Jadi Penjajah Budaya

Yang hilang karena teknologi itu adalah kewaspadaan.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Gita Amanda
Tangkapan layar Budayawan Slamet Raharjo saat acara webinar bertema Pahlawan di Mata Zaman yang digelar secara virtual melalui youtube di Jakarta, Selasa (10/11). Webinar yang diselenggarakan oleh Republika tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2020. Republika/Thoudy Badai
Foto: Republika/Thoudy Badai
Tangkapan layar Budayawan Slamet Raharjo saat acara webinar bertema Pahlawan di Mata Zaman yang digelar secara virtual melalui youtube di Jakarta, Selasa (10/11). Webinar yang diselenggarakan oleh Republika tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2020. Republika/Thoudy Badai

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di era sekarang ini, kata pahlawan telah berevolusi menjadi sebuah makna yang lebih luas. Budayawan dan aktor senior Slamet Rahardjo mengatakan bahwa pahlawan adalah orang-orang yang memiliki kerendahan hati dan kepedulian terhadap orang lain.

"Mereka memiliki pembawaan bahwa dirinya tidak ada artinya tanpa orang lain. Kerendahan hati itu adalah citra dari satria yang memiliki kejelasan kata dan perbuatan," ujar Slamet Rahardjo dalam diskusi daring Republika "Pahlawan di Mata Zaman", Selasa (10/11).

Slamet menuturkan, pahlawan tidak harus mengorbankan nyawanya, tetapi pahlawan tidak berpikir mengenai dirinya sendiri. Siapapun yang berpikir mengenai dirinya sendiri, tidak akan bisa berbagi ataupun membantu orang lain.

Dalam konteks era masa kini, siapapun bisa memanfaatkan teknologi untuk membantu orang lain. Dengan teknologi, gotong royong menjadi lebih mudah.

Kendati begitu, Slamet mengingatkan agar teknologi jangan sampai menjadi penjajah baru terhadap tatanan budaya masyarakat. "Yang hilang karena teknologi itu adalah kewaspadaan. Kewaspadaan itu bukan sesuatu yang fatal, tapi bisa saja karena kita lengah, dan ini bisa kita perbaiki," ujar Slamet.

Slamet juga mengingatkan agar pandai berterima kasih pada Tanah Air tempat kita dilahirkan. Menurutnya, kita dapat melihat sebuah kemungkinan untuk maju melalui kebesaran jiwa, ketajaman berpikir untuk melihat apakah menyerah menjadi konsumen dan berjuang untuk menjadi produsen, lalu rasa mandiri dan percaya pada budaya sendiri.

"Ini bersumber dari attitude dan rasa rendah hati dalam melihat keberuntungan yang diberikan bangsa ini. Kalau Anda merasa bangsa ini belum memberikan kebanggaan pada Anda, itu lain. Tapi harus berpikir, mengapa saya belum memberikan apapun kepada negara saya, kenapa hanya menjadi konsumen?" ucap Slamet.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement