Selasa 03 Nov 2020 05:34 WIB

Camat Dramaga Belum Terima Izin Bus Transjakarta Dihancurkan

Warga terganggu asap tebal dari pembakaran bangkai bus yang membuat mata sakit.

Rep: Shabrina Zakaria/ Red: Erik Purnama Putra
Sejumlah pekerja tengah membongkar atau membelah ratusan ‘bangkai’ bus Transjakarta di lahan kosong di Desa Dramaga, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Senin (2/11
Foto: Republika/Shabrina Zakaria
Sejumlah pekerja tengah membongkar atau membelah ratusan ‘bangkai’ bus Transjakarta di lahan kosong di Desa Dramaga, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Senin (2/11

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Ratusan ‘bangkai’ bus TransJakarta di lahan kosong Desa Dramaga, Kecamatan Dragama, Kabupaten Bogor sedang dihancurkan oleh pekerja untuk dibawa ke tempat peleburan. Pihak Kecamatan Dramaga mengaku belum menerima permohonan izin atau laporan apapun dari pihak pekerja jika ada kegiatan di lahan kosong tersebut.

“Terus terang mereka tidak pernah lapor ke kita. Dari 2018 tidak ada laporan. Kita tahunya dari teman-teman media kalau bus-bus itu,” kata Camat Dramaga, Ivan Pramudia kepada Republika, Senin (2/11).

Ivan mengaku, sebelumnya baru mengetahui adanya pekerjaan pembelahan atau pemotongan bus Transjakarta di wilayahnya setelah ada aduan dari warga pada awal Oktober 2020. Aduan tersebut berupa munculnya asap tebal imbas dari pemotongan dan pembakaran untuk menghancurkan bodi bus.

Setelah ia meninjau bersama kepala Desa Dramaga ke lokasi, dari situ Ivan mengetahui adanya pekerjaan tersebut. “Saya ketemu cuma sama yang kerja karena nggak ada penanggungjawabnya. Yang mereka bilang itu adalah hasil lelang yang dibeli sama pengepul asal Surabaya. Namanya juga tidak disampaikan ke saya,” ujar Ivan.

Menurut Ivan, harusnya setidaknya pihak perusahaan lelang atau perwakilan pekerja memberitahu ke kecamatan jika ada kegiatan pemotongan bangkai bus. Pasalnya, jika selanjutnya ada laporan dan keluhan serupa dari warga sekitar, pihak kecamatan bisa menjelaskan jika memang ada kegiatan di lokasi itu.

Sebelumnya warga di perumahan Pakuan Regency sempat terganggu dengan munculnya asap tebal dari pemotongan dan pembakaran bus yang membuat mata dan tenggorokan sakit. Setelah mendapatkan aduan warga dari lurah Margajaya melalui kepala Desa Dramaga, akhirnya Ivan meminta para pekerja untuk memperbaiki proses pemotongan bus yang menimbulkan kecurigaan di antara warga sekitar tersebut.

“Jadi kemaren tuh saya hanya minta diperbaiki cara motongnya sambil disemprot, jadi asapnya nggak membumbung besar,” jelas Ivan.

Dari pantauan Republika di lokasi sepanjang Senin siang, tampak sejumlah pekerja  melakukan pembelahan atau pembongkaran bus di lahan kosong Desa Dramaga. Pengerjaan tersebut tampak terbagi dua, antara pengerjaan bus besar dan kecil.

Ratusan bus berwarna oranye yang sudah lapuk tampak berjejer di lahan seluas hampir dua hektare tersebut. Ditambah lagi dengan banyaknya rongsokan besi, mesin bus, pecahan kaca, ban-ban besar, serta bangku-bangku bus berserakan di tanah yang tampak becek.

Ratusan bus Transjakarta yang dibiarkan rusak di lahan kosong itu merupakan hasil pengadaan tahun 2013. Karena bermasalah hukum, bus tersebut tidak lagi dioperasikan untuk mengangkut penumpang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement