Kamis 23 Jul 2020 18:20 WIB

Satu Orang Tewas Akibat Tawuran Pelajar di Jatiasih, Bekasi

Polisi amankan dua buah senjata tajam berjenis celurit sepanjang 60 cm.

Rep: Uji Sukma Medianti/ Red: Bilal Ramadhan
Delapan pelaku tawuran di Kampung Bulak, Jatiasih, Bekasi, ditangkap, Kamis (23/8).
Foto: Uji Sukma Medianti
Delapan pelaku tawuran di Kampung Bulak, Jatiasih, Bekasi, ditangkap, Kamis (23/8).

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Polres Metro Bekasi Kota menangkap delapan pelaku tawuran di Kampung Bulak, Kecamatan Jatiasih, Bekasi. Dari delapan pelaku, tujuh di antaranya merupakan pelajar sekolah menengah kejuruan.

Kejadian ini terjadi pada Rabu (15/7) lalu pada pukul 19.30 WIB. Peristiwa itu menewaskan satu orang pelajar berinisal MBJ dan satu korban luka berinisal JDA.

Polisi mengamankan barang bukti berupa dua buah senjata tajam berjenis celurit sepanjang 60 cm, satu buah gesper berwarna hitam merk Valcom, ponsel dan pakaian milik korban. Adapun, kronologi kejadiannya berawal dari pesan atau chat melalui aplikasi pesan di sosial media instagram yang dikirimkan salah satu tersangka.

Pesan ini berisi rencana untuk melakukan penyerangan terhadap kelompok korban. Kemudian korban mengajak berkumpul di rumahnya sekitar pukul 18.30 WIB. Setelah berkumpul sekitar 15 orang, kelompok korban langsung menuju Komsen tepatnya di bawah flyover ketika Isya. Sementara itu, pihak lawan datang dari arah Cikunir dan terjadilah tawuran antar dua kelompok.

“Pada saat itu (kejadian), korban berinisial MBJ ditabrak oleh pelaku dan sempat dibacok oleh sajam celurit oleh pelaku dan kawan-kawannya yang lain,” kata Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Pol Widjonarko di kantornya, Kamis (23/7).

Akibat kejadian tersebut, korban MBJ meninggal dunia dan JDA mengalami luka di bagian lengan. Keduanya juga langsung dilarikan ke RS Kartika Husada. “Dua hari setelah kejadian Polres Metro Bekasi dan Satreskrim Polsek Jatiasih membentuk tim untuk mengungkap kejadian,” tutur dia.

Kombes Widjonarko menuturkan hasil identifikasi menunjukkan pelaku berusia 16-18 tahun. Modusnya memang berawal dari ajakan tawuran di sosial media. “Mereka melalui instagram ada kesepakatan saling bertemu. Kemudian tidak seimbang (jumlah lawannya). Kemudian korban dikeroyok dan akhirnya meninggal dunia,” ujar dia.

Pihak kepolisian masih terus mengidentifikasi mengenai kemungkinan adanya tersangka lain dalam kasus tawuran ini. Sebab, diketahui pada saat kejadian jumlah pihak korban ada 15 orang.

“Saat kejadian jumlahnya lebih dari delapan, dari pihak korban saja 15 orang. Mungkin dari pihak yang melakukan pembacokan itu lebih dari delapan orang. Itu SMK-nya Permata Bangsa dan SMK Gema Karya Bahana,” jelas dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement