Jumat 29 May 2020 08:52 WIB

Fitri dari Korupsi dan Pandemi

Idul Fitri harusnya momentum memfitrikan bangsa ini dari praktik korupsi dan pandemi.

Umat Islam melaksanakan shalat Idul Fitri 1441 Hijriah di lantai atas indekos kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Minggu (24/5/2020). Shalat Idul Fitri 1441 Hijriah berjemaah yang dilakukan di rumah dengan jumlah yang terbatas tersebut sesuai imbauan pemerintah guna mencegah penyebaran COVID-19 dan memaksimalkan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Foto:

Secara substansial, misi utama setiap agama dengan kitab sucinya adalah untuk mempertemukan kehendak dan kasih Tuhan dengan kehendak dan perjalanan manusia. Demikian juga, agama Islam dan syariat yang dibawa Nabi SAW, termasuk ibadah puasa yang bersifat sangat pribadi itu, sejatinya untuk menyadarkan umat manusia agar mampu melihat realitas lain yang lebih tinggi dan hakiki, yaitu "realitas Ilahi" yang Mahahadir.

Maka itu, sangat relevan jika dimensi spiritualitas itu hadir dalam proses transformasi sosial, yang wilayah operasionalnya terletak pada dataran struktural atau titik beratnya pada dimensi praksis dari perilaku seseorang dalam jaringan institusi masyarakat. Dalam perspektif Islam, kesadaran spiri tualitas berimpit erat dengan kesadaran manusia. Artinya, semakin tinggi kesadaran keberagamaan seseorang, semestinya kian tinggi pula kualitas kemanusiaannya dalam kondisi dan situasi yang bagaimanapun.

Ini berarti, nilai kemanusiaan hanya bisa dipahami ketika semua perilaku lahir-batinnya diorientasikan kepada Tuhan dan dalam waktu bersamaan, juga membawa implikasi konkret terhadap upaya mening kat kan nilai kemanusiaan. Pendeknya, manusia tidak bisa dipahami tanpa keterkaitannya dengan Tuhan dan dengan manusia lainnya dalam kehidupan sosial.

Korupsi dan pandemi

Kiranya benar yang dikatakan Imam al-Ghazali dalam karya "magnum opus"-nya, Ihya' Ulumuddin, "Aktivitas kemanusiaan yang tidak diterangi cahaya Ilahi bagaikan orang berjalan di atas lorong setan yang gelap. Dan orang yang sekadar percaya kepada Tuhan, tetapi tidak menumbuhkan sifat-sifat atau nilai-nilai spiritual-religius di dalam dirinya, ia bagaikan iblis yang gentayangan."

Dari sini bisa dipahami, korupsi yang merajalela di republik ini bersumber dari tumpulnya hati nurani dan hilangnya nilai spiritual-religius elite politik. Mereka memahami politik sebagai cara untuk merampok uang rakyat, bukan melayani rakyat. Dalam konteks ini, mereka mencederai fungsi politik yang hakikatnya mewujudkan kemaslahatan publik.

Nah, selama Ramadhan, jasmani dan rohani kita digodok untuk beribadah dan bermuamalah secara proaktif agar menjadi manusia bermoral dan bertakwa. Yakni, manusia yang lebih mengenali jati dirinya sebagai manusia lemah. Manusia awam yang gampang dikotori debu duniawi. Ini berarti, setelah ber-Idul Fitri, setiap orang semestinya mengalami reaktualisasi diri sebagai sosok manusia baru yang suci.

Sinyal ketuhanan dan kemanusiaannya pun tak meredup, bahkan kian menguat meski Ramadhan telah lewat. Tak ada lagi korupsi dan selingkuh kekuasaan serta dusta atas janji-janji politik, karena syahwat korupsi dan nafsu liar kekuasaan telah tertundukkan.

Tak ada lagi lontaran kalimat agitatif dan provokatif melalui media sosial yang bisa memantik pro dan kontra tak berujung. Dalam kon teks penanganan dampak pandemi Co vid-19, bantuan bagi yang terdampak harus terus mengalir seiring selesainya Ramadhan.

Jiwa filantropis manusia suci pasca- Ramadhan harus tetap menyala dan bersifat kontinu, tidak hanya bersifat insidental se waktu ada wabah. Era pandemi mengharuskan manusia yang tersucikan melakukan perubahan total dalam kehidupan.

Tak ada lagi pelanggaran PSBB, penolak an janazah Covid-19, misalnya. Sebaliknya, berperilaku hidup bersih dan sehat sesuai protokol kesehatan dengan selalu bermasker saat beraktivitas di luar rumah atau rutinitas cuci tangan, misalnya, harus menjadi bagian dari new normal pasca-Ramadhan.

Bila semua dilakukan, saat itulah berlaku makna simbolis Idul Fitri. Yakni, kembalinya manusia kepada fitrah kemanusiaan yang sejati.

Sosok manusia yang secara mental telah terevolusi: dekat dengan Tuhan dan se samanya, memiliki integritas moral dan kepekaan sosial yang tinggi, tidak teralienasi dari nilai spiritual-religius, dan fitri dari korupsi dan pandemi. Selamat Idul Fitri 1441 H.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement