Sabtu 23 May 2020 16:48 WIB
Komunis

100 Tahun PKI: Lahirnya Komunisme di Indonesia

Lahirnya Komunisme di Indonesia

Para aktvis PKI di Batavia
Foto: wikipedia
Para aktvis PKI di Batavia

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh : Beggy Rizkiyansyah – Pegiat Sejarah dan aktivis Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

Perseteruan kubu kiri dan Islam di Sarekat Islam memuncak tatkala ISDV mengubah organisasinya menjadi Partai Komunis. Perubahan ISDV menjadi PKI tak bisa dilepaskan dari perseteruan di ISDV. Stokvis, salah seorang pemipin ISDV menyatakan keluar dan membentuk Indische Sociaal-Democratische Party (ISDP) pada September 1917.

Pada tahun 1919 Lenin membentuk Komunis Internasional (Komintern), dan menyerukan kepada semua partai sosial demokrat untuk mengganti namanya menjadi partai komunis, agar membedakan diri dengan kaum sosial-sovinis-reaksioner. Akhirnya pada Kongres ketujuh ISDV muncul desakan untuk mengubah nama ISDV menjadi Partai Komunis. Tujuan utama perubahan nama tak lain agar Komunis Internasional mengetahui bahwa ISDV merupakan bagian dari mereka dan mengetahui bahwa mereka bukan pengusung sosialisme palsu. Het Vrij Woord bulan Juni 1920 mengutip pernyataan dari konferensi ISDV tersebut;

“Perbedaan ISDV yang menjadi cabang SDAP Internasionale II di Negeri Belanda dengan kita ISDV, adalah perbedaan pandangan yang prinsipil, politik, dan taktik. Sosialisme palsu mematahkan kepercayaan protelariat akan kemampuan dirinya sendiri dan terpaksa menggantungkan diri kepada kapitalisme. Perbedaan yang lain, adalah bahwa kaum komunis berjuang untuk diktatur proletariat, tetapi mereka menentang ini. Kalau kita menyokong diktatur proletariat, maka kita adalah komunis. Kita menentang nasionalisme, karena kita adalah internasionalisme tulen yang tergabung dalam internasionale. Sekarang di Indie belum terlalu tajam pertentangannya, karena kita baru dalam taraf permulaan mendirikan Sovyet Republik Indonesia.

Dalam berbagai negeri, walaupun masih jauh dari tujuan revolusi, mereka sudah menamakan dirinya, Partai Komunis. Kawan-kawan kita yang sudah mendirikan Internasionale III, yang dipimpin Lenin perlu tahu pula akan perubahan kita, kalau tidak mereka akan menyangka kita kaum pengkhianat-pengkhianat sosialis dari Internasionale II.”

Awalnya usulan nama yang diajukan adalah Perserikatan Komunis Hindia (PKH) atau Indische Komunistische Party (IKP). Namun konferensi memutuskan: Perserikatan Komunis di India atau Partij der Komunisten in Indie (PKI). Tanggal 23 Mei 1920 kemudian diingat sebagai hari lahirnya PKI. Pada Konferensi itu Semaoen diputuskan sebagai ketua, sedangkan Dharsono sebagai wakil, Bergsma (Sekertaris), dan Baars sebagai komisioner. Pada tahun itu pula PKI menyatakan bagian dari Komintern.

Gambar 1.9 Asser Baars. Sumber foto: socialhistory.org

  • Keterangan foto: Asser Baars. Sumber foto: socialhistory.org

     

Terbentuknya PKI membuat kelompok komunis di Hindia Belanda mengeluarkan tesis baru untuk gerakan mereka. Selain menekankan pada aksi massa sebagai gerakan massa, PKI juga menekankan pentingnya dukungan kaum tani dan buruh. Yang tak kalah penting, mereka mengeluarkan sikap menentukan terhadap yang mereka sebut sebagai ‘borjuis nasional.’

“Karena itu tujuan pertama adalah mengorganisasikan proletariat industri dan mengajarkan sosialisme pada mereka, pada saat yang sama melakukan propaganda dalam organisasi seperti Sarekat Islam, Sarekat Hindia dan Budi Utomo. Para pemimpin nasionalis borjuis harus dilawan, bukan diajak berkolaborasi: “Agitasi bersama pemimpin borjuis untuk tujuan borjuis sama sekali tak berguna.”

Tesis PKI ini membuat PKI memberlakukan disiplin partai dengan melarang keanggotaan ganda anggota PKI, baik di Sarekat Hindia maupun di Budi Utomo, namun yang menarik, tetap diperbolehkan untuk tetap menjadi anggota di Sarekat Islam. Tak dapat dipungkiri, Sarekat Islam tetap menjadi magnet untuk menggaet massa bagi PKI. Namun bagi pengurus CSI, beralihnya ISDV menjadi PKI dan bergabungnya PKI ke Komintern membuat mereka semakin yakin kehadiran PKI untuk memecah belah SI. Selain itu sikap Komintern sendiri dianggap memusuhi Islam, karena pada Kongres Komintern ke-2, Lenin menyerukan untuk memerangi gerakan Pan-Islam,

“…the need to combat Pan-Islamism and similar trends, which strive to combine the liberation movement against European and American imperialism with an attempt to strengthen the positions of the khans, landowners, mullahs, etc.

Di Hindia Belanda, persoalan ini menjadi serius. Meski Lenin setuju pada keterlibatan komunis di Hindia Belanda dalam Sarekat Islam, namun penolakan terhadap gerakan Pan-Islam, bagi gerakan Islam di Hindia Belanda, adalah penolakan terhadap persatuan Islam itu sendiri. PKI, dalam kongres mereka di tahun yang sama (tahun 1920), mengakui sulit untuk menjawab hal ini.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement