Selasa 28 Apr 2020 06:15 WIB

Dampak Corona, Penjual Nasi Padang Banting Setir Jual Masker

Mencari akal agar tetap dapat penghasilan, Edi banting setir menjual masker.

Rep: Febrian Fachri/ Red: Yudha Manggala P Putra
Penjual menjual masker. Ilustrasi
Foto: ANTARA FOTO
Penjual menjual masker. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Virus corona atau Covid-19 yang sudah menyebar cukup luas di Sumatera Barat telah berdampak kepada perekonomian masyarakat. Banyak pedagang yang harus mencari-cari akal agar tetap mendapat penghasilan karena dagangan sebelumnya sudak tak laku. Salah satunya adalah Edi (50) warga Siteba, Kecamatan Nanggalo Kota Padang.

Sebelum ada wabah corona, Edi berjualan nasi ampera atau nasi Padang di dekat Kampus Politeknik Kesehatan (Poltekes) Padang di Siteba. Sejak dua bulan terakhir, nasi Padang yang dijual Edi sudah tak laku.

Di hari-hari biasa, pembeli nasi Padang di tempat Edi adalah para mahasiswa Poltekes Padang. Sekarang para mahasiswa dirumahkan oleh Pemerintah Kota Padang dalam upaya memutus mata rantai penularan virus corona.

"Biasanya saya jualan nasi ampera di Siteba, samping Poltekes. Sekarang enggak jualan nasi dulu karena tak laku," kata Edi kepada Republika di depan Hotel Basko Padang, Senin (27/4).

Ketika berhenti berjualan nasi, Edi cukup kesulitan untuk menghidupi istri dan anak-anaknya. Beberapa hari Edi sempat berdiam di rumah saja dan makan dengan sisa-sisa tabungan yang ada.

Kemudian Edi merasa tak nyaman lagi karena tak ada pemasukan. Ia melihat peluang mencari nafkah dengan berjualan masker. Karena masker sudah menjadi kebutuhan 'pokok' di tengah ancaman Covid-19.

Semula Edi berjualan masker di depan Pasar Nanggalo Siteba. Di sana ia menjual masker dengan kaki lima. Edi merasa berjualan masker di depan Pasar Nanggalo tidak terlalu bergairah. Terlebih pedagang masker juga sudah menjamur di pinggir-pinggir jalan Kota Padang termasuk di Siteba.

Sepekan terakhir, Edi berjualan masker di dekat posko check point Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Padang di depan Hotel Basko Kota Padang. Di sana petugas  gabungan yakni TNI, Polri, Satpol PP dan Dinas Perhubungan menyaring kendaraan yang akan masuk pusat kota.

Pengendara yang tidak memakai masker akan disuruh memakai masker. Begitu juga dengan penumpang mobil yang masih duduk di depan akan diminta pindah ke belakang untuk physical distancing.

Dari situlah Edi mendapatkan keuntungan. Edi dan beberapa pedagang masker yang lain di dekat posko check point Basko menjual masker kepada pengendara yang dicegat petugas.

"Di awal-awal ada posko ini, banyak pengendara yang beli masker. Karena ada yang lupa bawa masker, ada yang benar-benar cuek merasa tak nyaman memakai masker," ucap Edi.

Tiga hari pertama Pemerintah Provinsi Sumbar memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Edi bahkan sampai mendapat omzet Rp 250 ribu perhari dari penjualan masker.

Karena tiga hari pertama PSBB menurut Edi banyak pengendara yang belum tahu akan kewajiban menggunakan masker bila keluar rumah. Tapi tiga hari belakangan penjualan masker kata Edi mulai tidak banyak. Ia hanya beromzet Rp 100 ribu sehari.

Edi tetap bersyukur masih punya penghasilan dari jualan masker. Karena ia masih dapat menghidupi anak istri di rumah.

Edi mengeluhkan bantuan yang dijanjikan pemerintah belum kunjung turun. Sehingga pedagang harian seperti dirinya tetap harus mencari akal agar tetap berpenghasilan. Walau tidak sebanyak pendapatan berjualan nasi, Edi tetap berbesar hati masih punya jalan mencari nafkah. Terlebih sudah memasuki bulan puasa di mana kebutuhan dapur semakin meningkat.

Edi menjual masker buatan adiknya yang merupakan seorang penjahit. Untuk berjualan masker, Edi tidak butuh modal. Ia hanya mendapat persenan hasil penjualan setiap hari. Edi menjual dua tipe masker. Yaitu tipe scuba dan masker kain.

Masker kain ia jual seharga Rp 10 ribu. Untuk scuba dengan harga Rp 15 ribu. "Sembari membantu adik saya yang kebetulan menjahit masker," kata Edi menambahkan.

Edi berharap pandemi corona ini segera berakhir supaya mata pencahariannya kembali stabil dengan berjualan nasi Padang. Karena Edi merasa tidak mungkin setiap hari berjualan masker karena kini intensitas jual beli masker sudah menurun.

Terlebih kini pengendara mulai kian menyadari memakai masker dari rumah. Artinya pembeli masker dadakan saat dicegat petugas semakin berkurang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement