Ahad 19 Apr 2020 16:18 WIB

Risiko Jadi Perawat Corona, Mulai Diusir Hingga Meninggal

Memeriksa satu pasien, waktu terlama bisa mencapai hingga empat jam.

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Andi Nur Aminah
Perawat mengunakan baju steril saat akan melakukan pemeriksaan terhadap pasien yang diduga terkena virus
Foto: Antara
Perawat mengunakan baju steril saat akan melakukan pemeriksaan terhadap pasien yang diduga terkena virus

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjadi tenaga kesehatan perawat menjadi profesi yang dipilih oleh Nurdiansyah. Ia sengaja memilih bekerja sebagai perawat di rumah sakit (RS) rujukan virus corona SARS-CoV2 (Covid-19) di rumah sakit pusat infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta Utara sejak 1,5 tahun terakhir.

Bekerja di fasilitas kesehatan yang khusus menangani penyakit infeksi, membuat ia tidak kaget menangani penyakit infeksi tak remeh seperti pasien HIV/AIDS hingga kasus infeksi lainnya seperti MERS-CoV, flu burung, dan pasien difteri. Kemudian, ia menyebutkan sejak awal Maret 2020 lalu mulai ada suspect pasien terinfeksi Covid-19 dan dirujuk ke RS tempatnya bekerja. Beruntung sebelumnya ia telah mendapatkan pelatihan untuk pengendalian infeksi.

Baca Juga

"Akhirnya semua ruangan di RSPI Sulianti Saroso kini jadi tempat penanganan pasien Covid-19. Kami di ruangan melakukan perawatan pada pasien dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap dari atas sampai bawah jadi betul-betul harus tertutup karena kami memakai sepatu boots, baju cover all, kacamata goggle, masker N95, visor, hingga baju perawat khusus," ujarnya saat konferensi video pengalaman menghadapi pandemi Covid-19, di akun Youtube saluran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Ahad (19/7).

Ia menceritakan selalu memonitor kebutuhan pasien melalui kamera pengawas yang dipasang di setiap kamar pasien. Selain itu pihaknya

menyiapkan kebutuhan pasien, ganti baju, ganti infus, memberikan obat, hingga memberikan makanan.

Nurdiansyah menyebut lama pemeriksaan bervariasi yaitu paling cepat 30 menit untuk mengganti infus. Sedangkan yang terlama hingga empat jam karena harus menjalani pemeriksaan seperti jantung hingga memberi motivasi menguatkan pasien dan menganjurkan melakukan hal positif supaya imunitas pasien meningkat. Setelah mengunjungi pasien, ia segera mengganti APD di ruangan ganti.

Meski telah berjuang menangani pasien corona yang tengah menjadi pandemi dan bukannya jadi pahlawan kemanusiaan, ia dan rekan-rekannya harus mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan hingga risiko kematian. Ia mengaku rekan-rekan sejawatnya banyak sekali mengalami stigma negatif, seperti diusir dari kontrakan, dijauhi tetangganya, bahkan yang terparah risiko perawat tertular positif Covid-19.

"Makanya kami sedih, semakin banyak perawat yang tertular saat merawat dan tidak sedikit yang meninggal dunia. Mereka tertular karena mungkin ada pasien yang tidak jujur," kata pria yang juga pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jakarta Utara itu.

Karena itu, ia meminta pemerintah melindungi para tenaga medis dengan APD yang memadai, jangan sampai mencarinya sendiri. Selain itu, pihaknya meminta pemerintah memperhatikan dan melindungi perawat dengan rotasi jam kerja tenaga kesehatan cukup untuk mengantisipasi kelelahan. Beruntung, ia mengapresiasi pemerintah yang sudah menyediakan penginapan untuk tenaga kesehatan sebagai tempat transit atau beristirahat sementara.

Tak hanya itu, ia berharap pemerintah dan masyarakat sama-sama melakukan pencegahan. Ia menegaskan satu-satunya melawan Covid-19 yaitu dengan pencegahan. "Yang berada di garda terdepan adalah masyarakat. Tenaga kesehatan termasuk perawat justru berada di lini belakang ketika pasien sudah terinfeksi," ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement