Senin 24 Feb 2020 18:07 WIB

Pemkab Sleman Serahkan Santunan untuk Korban Susur Sungai

Keluarga korban meninggal dunia disabtuni Rp 21 juta.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Dwi Murdaningsih
Siswa Beraktifitas. Siswa SMPN 1 Turi usai mengikuti materi penanganan trauma pascamusibah susur Sungai Sempor di Sleman, Yogyakarta, Senin (24/2).
Foto: Wihdan Hidayat/ Republika
Siswa Beraktifitas. Siswa SMPN 1 Turi usai mengikuti materi penanganan trauma pascamusibah susur Sungai Sempor di Sleman, Yogyakarta, Senin (24/2).

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Pemkab Sleman menyerahkan santunan Rp 21 juta kepada keluarga-keluarga dari korban meninggal dunia tragedi susur sungai SMPN 1 Turi. Sedangkan, untuk korban-korban luka diserahkan santunan Rp 2,5 juta.

Bantuan diserahkan langsung Bupati Sleman, Sri Purnomo, kepada keluarga. Selain santunan kepada keluarga-keluarga korban, Pemkab Sleman memberikan bantuan Rp 15 juta lagi untuk pelaksanaan program-program trauma healing.

Baca Juga

Bantuan terkumpul dari Kemendikbud, BPBD, Dinas Sosial dan Baznas Sleman. Sri turut memberikan apresiasi kepada pihak-pihak yang terlibat membantu penanganan bencana tersebut mulai pencarian sampai proses identifikasi.

Ke depan, ia menekankan, Pemkab Sleman bekerja sama dengan Kemendikbud akan membuat prosedur tetap terkait kegiatan-kegiatan luar sekolah. Sehingga, nantinya wajib dijalankan secara profesional guna menjaga keselamatan.

"Dan, yang terpenting ini adalah pembelajaran bagi kita semua agar ke depan tidak terulang kejadian seperti ini," kata Sri, Senin (24/2).

Pada kesempatan itu, Dirjen PAUD Dikdasmen, Haris Iskandar merasa, pemerintah sebenarnya sudah memiliki peraturan terkait perlindungan dan keselamatan. Baik untuk peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan.

Semua itu ada di Permendikbud Nomor 33 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana. Namun, ia mengakui, Permendikbud masih kurang dan akan dikaji lebih lanjut terkait hal-hal yang lebih detail.

"Detailnya akan kita garap terkait kegiatan yang sifatnya memiliki risiko," ujar Haris.

Menurut Haris, kunjungannya kali ini bermaksud pula untuk mengumpulkan informasi lapangan yang akan digunakan sebagai bahan evaluasi. Termasuk, mempelajari kekurangan apa saja yang ada dalam kebijakan selama ini.

"Protapnya atau prosedurnya atau yang lainnya, sehingga kegiatan belajar itu menjadi aman dan nyaman untuk siswa di seluruh Indonesia," kata Haris.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement