Kamis 20 Feb 2020 17:53 WIB

Mensos Harap Tagana Selamatkan Banyak Nyawa

Personel Tagana juga harus menjaga kesehatan diri.

Rep: Nugroho Habibi/ Red: Andi Nur Aminah
Menteri Sosial Juliari P Batubara meninjau latihan bersama penangganan bencana antara Tagana dan Chiba University Jepang di Mako Tagana, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Kamis (20/2).
Foto: Dok Istimewa
Menteri Sosial Juliari P Batubara meninjau latihan bersama penangganan bencana antara Tagana dan Chiba University Jepang di Mako Tagana, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Kamis (20/2).

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Menteri Sosial Juliari P Batubara memberikan semangat kepada Taruna Siaga Bencana (Tagana) di Kabupaten Bogor. Juliari berharap Tagana dapat berkontribusi lebih banyak untuk membantu dan menyelamatkan nyawa korban bencana alam.

"Kalian adalah orang-orang terpilih untuk mengikuti pelatihan ini. Dengan kesiapsiagaan yang lebih, didukung dengan mitra-mitra kerja Kementerian Sosial akan lebih banyak lagi jiwa yang terselamatkan," ungkap Juliari saat mengunjungi Pelatihan Penjenjangan Tagana Madya di Kabupaten Bogor, Kamis (20/2).

Baca Juga

Juliari meminta Tagana untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dalam membantu korban bencana. Dia mengimbau personel Tagana juga menjaga kesehatan diri. "Kesiapsiagaannya, tentunya, bagaimana dalam kondisi bencana, petugas kita bisa terampil mencegah jatuhnya lebih banyak korban atau mencegah korban menjadi lebih fatal", kata Juliari.

Dalam kegiatan tersebut, Tagana memperoleh pelatihan bidang kesehatan. Dengan penjenjangan tersebut, Tagana diharapkan mampu memimpin bidang kesehatan.

Jika tidak, Juliari mengatakan, pelatihan itu dapat menjadi bekal untuk saling menjaga kesehatan sesama Tagana. Sebab, jumlah tenaga medis di lapangan acap kali terbatas.

"Yang namanya petugas, dia harus lebih sehat dari yang diselamatkan, kalo petugas dikit-dikit sudah bengek, ingusan, batuk-batuk, saya instruksikan komandannya untuk ganti saja dengan yang lebih sehat. Setuju ya? Siap ya?" ujar Mensos seraya diamini secara serempak oleh sebanyak 60 Tagana Muda yang kemudian dikukuhkan menjadi Tagana Madya.

Mensos menekankan kelebihan penanganan bencana di Indonesia yang berbasis masyarakat. Bahkan, menurut Juliari, Jepang yang kerap menjadi percontohan dalam penaganan kebencanaan, tidak memiliki petugas relawan bencana berbasis komunitas seperti Tagana di Indonesia.

Juliari mengatakan, penaganan bencana tidak mungkin seluruhnya di lakukan oleh pemerintah. Pasalnya, di Indonesia bencana alam sudah menjadi sesuatu yang permanen. "Tapi kita punya Tagana, kesiapsiagaan yang berbasis komunitas, untuk itu, kesiapan mereka, kemampuan mereka, peralatan mereka juga harus kita perhatikan. Itu semua sangat berpengaruh pada semakin sedikitnya korban bencana alam di kemudian hari", terang Mensos.

Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam (PSKBA), Rachmat Koesnadi mengatakan Penjenjangan Tagana Madya bidang Manajemen Kesehatan Relawan pertama kali dilakukan. Dia menjelaskan, penjenjangan memperoleh dukungan dari sejumlah organisasi dan lembaga dunia meliputi CIS Jepang, UN-OCHA, WFP, RedR, UNICEF hingga IOM.

Tahun 2020, Rachmat menyebut jumlah total personel Tagana yang sudah mencapai 38 ribu. Dia memaparkan, penjenjangan dimulai dari Tagana Muda, Madya hingga Utama. "Hingga tahun 2020, jumlah personel Tagana yang tersebar di seluruh Indonesia sebanyak 38.992 orang dengan rincian Tagana Muda sebanyak 38.332 orang, Tagana Madya sebanyak 623 personel dan Tagana Utama sebanyak 37 personil", terangnya.

Rachmat merinci, anggota Tagana yang memiliki spesialisasi Layanan Dukungan Psikososial (LDP) sebanyak 7.190 personel. Shelter sebanyak 4.171 personel, Dapur Umum sebanyak 3.782 dan Logistik sebanyak 2.313. "Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat seiring eksistensi Tagana setiap kali terjadi bencana alam," kata Rachmat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement