Rabu 19 Feb 2020 17:19 WIB

Demokrat Siapkan AHY dan Ibas Jadi Capres 2024

Demokrat tengah mempersiapkan AHY dan Ibas untuk kontestasi politik tahun 2024.

Rep: Nawir Arsyad Akbar/ Red: Bayu Hermawan
Waketum Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menanggapi pertanyaan wartawan di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (19/11)
Foto: Republika/Zainur Mahsir Ramadhan
Waketum Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menanggapi pertanyaan wartawan di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (19/11)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Partai Demokrat disebut tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi kontestasi politik pada 2024. Bahkan, dikabarkan dua putra Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yakni Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhy Baskoro Yudhoyono atau Ibas tengah dipersiapkan untuk menjadi calon presiden.

"Saya pikir semua pimpinan partai, kader partai arahnya juga ke sana. Kalau bukan presiden dan wakil presiden," ujar Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (19/2).

Baca Juga

Saat ditanya apakah ada kader senior Partai Demokrat yang juga akan maju, Syarief menjawab bahwa para senior akan mengawal kader-kader muda guna meningkatkan suara partai jelang 2024. "Senior itu membimbing juniornya, mengawal. Apalagi, tahun 2024 itu generasi milenial yang muncul," katanya.

SBY disebutnya juga akan menerima jika kader muda yang akan mengisi kepengurusan atau maju dalam Pilpres 2024. Sebab, regenerasi merupakan hal yang alami. "Proses regenarasi itu perlu dan kita di Demokrat sangat memahami itu. Jadi, apalagi Pak SBY sangat mendorong ada proses regenerasi," ujar Syarief.

Sebelumnya, pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menilai, Partai Demokrat akan makin terasa oligarki dan feodalismenya, jika putra dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilih menjadi ketua umum partai. Apalagi jika pemilihannya tak melewati mekanisme pemungutan suara.

"Partai politik belakangan tren makin tidak demokratis, makin oligarki, kekuasaan yang bertumpu/berpusat pada satu atau beberapa orang saja yang mengendalikan dan mengatur parpol," ujar Pangi.

Hal serupa juga terjadi partai lainnya, seperti PDIP, Partai Gerindra, dan Partai Nasdem. Jikalau pun berganti ketua umum, posisi tersebut akan diserahkan kepada sosok yang memiliki garis keturunan.

"Kalaupun berganti tidak jauh-jauh jatuh dari trah keluarga mereka, tidak heran kita sering sebut partai keluarga," ujar Pangi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement