Selasa 14 Jan 2020 17:54 WIB

Pemda Lebak Bangun Tujuh Tenda Darurat untuk Belajar

Tujuh tenda tersebut dibangun dekat posko pengungsian.

Rep: Mabruroh/ Red: Andi Nur Aminah
Seorang menunggu waktu kegiatan belajar di tenda darurat di SDN Cirimekar 02, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Senin (6/1).
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Seorang menunggu waktu kegiatan belajar di tenda darurat di SDN Cirimekar 02, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Senin (6/1).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Lebak, Wawan Ruswandi mengatakan Pemerintah Daerah telah membangun tujuh tenda darurat untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) pascabanjir dan longsor. Tujuh tenda tersebut dibangun dekat posko pengungsian.

"Kami sudah mendirikan, ada tujuh tenda darurat, ada juga yang sekolah di madrasah, di majelis taklim, (nanti) gurunya yang datang ke situ, guru dari SD bersangkutan," kata Wawan melalui sambungan telepon, Selasa (14/1).

Baca Juga

Sebenarnya ujar Wawan, kegiatan untuk anak-anak TK dan SD di dalam tenda-tenda tersebut lebih kepada menghilangkan trauma terlebih dahulu dengan kegiatan trauma healing. Namun beberapa juga ada yang sudah fokus balajar seperti biasa, untuk anak-anak SMP dititipkan sementara di SMP terdekat posko pengungsian.

Untuk menunjang KBM, lanjut Wawan, bersama Kemendikbud juga tengah mengupayakan memberikan seragam sekolah baru lengkap dengan sepatu, tas dan alat tulis. Hal ini dilakukan karena banyak korban yang tak sempat menyelamatkan pakaian sekolah mereka. "Kami juga memberikan seragam siswa-siswa yang seragamnya hanyut kami bantu, sepatu termasuk buku kami bantu," ungkap Wawan.

Tidak hanya itu kata dia, bahkan Pemda pun guna mendukung KBM tetap berjalan dan siswa tidak tertinggal pelajaran maka disediakan juga kendaraan di tiap posko untuk mengantar siswa ke sekolag-sekolah terdekat. "Dari posko kami sediakan kendaraan ke sekolah terdekat, kami juga beri jajan untuk siswa yang di tenda darurat ya, Rp 5.000 uang jajannya setiap hari," kata Wawan.

Saat ditanyakan terkait tunjangan guru yang terdampak bencana, menurutnya tidak ada. Kecuali rumah guru tersebut hanyut atau rusak parah maka akan dibantu oleh PGRI. "Guru tetap saja, tidak berpengaruh, gaji biasa. Kecuali yang hanyut rumahnya ada bantuan dari PGRI," kata Wawan.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement