Selasa 14 Jan 2020 02:41 WIB

BPPT Kaji Pemanfaatan SMART Cable untuk EWS Tsunami

SMART Cable dinilai sebagai solusi yang layak secara ekonomis.

Sejumlah pelajar melintas di samping alat pendeteksi tsunami atau Tsunami Early Warning System (TEWS) yang dipasang di Desa Seuneubok, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Selasa (27/12).
Foto: Antara/Syifa Yulinnas
Sejumlah pelajar melintas di samping alat pendeteksi tsunami atau Tsunami Early Warning System (TEWS) yang dipasang di Desa Seuneubok, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Selasa (27/12).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan mengkaji pemanfaatan teknologi Science Monitoring and Reliable Telecommunications Cable (SMART Cable) untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami dan mitigasi perubahan iklim.

"Dengan kita memanfaatkan Smart Cable Technology yang saat ini dalam proses didorong untuk pemanfaatannya oleh IOC UNESCO, ITU, WMO, yang ketiganya adalah organisasi di bawah United Nations maka kita berharap kabel-kabel yang ditempatkan di dasar laut itu juga beroperasi sebagai jalur telekomunikasi," kata Kepala BPPT Hammam Rizadi Jakarta, Senin (13/1).

Dalam lokakarya bertajuk Strengthening Tsunami Warning Operation Trough SMART Cable Technology yang berlangsung di Gedung BPPT, Jakarta, ia mengatakan bahwa dengan teknologi SMART Cable, seluruh jalur kabel yang ada di Indonesia berpotensi digunakan untuk sistem peringatan dini tsunami serta memantau perubahan kondisi laut yang berkaitan dengan perubahan iklim.

United Nations International Telecommunication Union (ITU), The Intergovernmental Oceanographic Commission of the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization(UNESCO) dan The World Meteorological Organization (WMO) sudah membentuk satuan tugas gabungan untuk memanfaatkan Smart Cable Technology dalam upaya penguatan operasi peringatan dini (early warning system/EWS) tsunami.

Satuan tugas gabungan yang meliputi perwakilan pemerintah, sektor swasta, serta universitas telah melakukan penelitian dalam 10 tahun terakhir dan menyimpulkan bahwa SMART Cable merupakan solusi yang layak secara ekonomis untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Pada 2019, BPPT memasang empat buoy tsunami dan dua alat deteksi tsunami berbasis kabel (Indonesia Cable Based Tsunameter/Ina-CBT). Empat buoy bagian dari Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) dipasang di empat titik yang berpotensi menghadapi gempa dan tsunami, yakni Selatan Kuta, Badung, Bali; Selatan Malang, Jawa Timur; Selatan Cilacap; dan Selat Sunda.

Ina-CBT dengan kabel fiber optik sepanjang 3,5 km dipasang di Pulau Sertung di sekitar Gunung Anak Krakatau dalam upaya mitigasi dan reduksi risiko bencana guna meminimalkan korban jiwa dan kerusakan harta benda apabila terjadi letusan Gunung Anak Krakatau yang memicu tsunami. Selain itu, ada INA-CBT dengan kabel optik sepanjang 7,5 km di Pulau Sipora di Perairan Mentawai.

"Fiber optik bisa mengantarkan real-time information (informasi seketika) terkait dengan adanya perubahan tekanan ataupun terjadinya gempa sehingga waktu yang dibutuhkan untuk memberikan warning system (sistem peringatan) lebih cepat, sehingga masyarakat yang ada di pesisir yang berpotensi terdampak tsunami dapat menyelamatkan diri memiliki waktu evakuasi yang lebih panjang," kata Hammam.

Ia mengatakan, sensor SMARTCable akan "membonceng" kekuatan dan infrastruktur komunikasi sejuta kilometer kabel serat optik bawah laut dan ribuan repeater, yang menciptakan potensi pengamatan laut global berbasis dasar laut dengan biaya tambahan sederhana.

Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT Yudi Anantasena menjelaskan bahwa sensor pada SMARTCable bisa mengukur mengukur suhu di bawah permukaan laut, mendeteksi tsunami, serta mengukur tekanan dan akselerasi seismik.

Data-data tersebut bukan saja dibutuhkan untuk mitigasi bencana tsunami dengan mengirimkan informasi deteksi tsunami yang lebih cepat dan akurat, tapi juga untuk menambah informasi mengenai kualitas iklim berkelanjutan yang bisa menjadi masukan bagi upaya mitigasi perubahan iklim.

CBT buatan BPPT yang terpasang saat ini baru bisa mengukur perbedaan tekanan air hingga sangat kecil di bawah permukaan laut guna mendeteksi potensi tsunami dan gempa.

CBTitu menggunakan sistem perkabelan fiber optik yang dapat mengirimkan informasi seketika lebih akurat dan cepat terkait indikasi tsunami.

Menurut Yudi, pembuatan hingga pemasangan buoy membutuhkan biaya Rp 6 miliar sampai Rp 7 miliar, namun biaya pemeliharaannya jauh lebih besar karena membutuhkan penggantian baterai per tahun. Selain itu buoy berisiko menjadi sasaran vandalisme.

Sedangkan pembangunan pemasangan SMART Cable, menurut dia, bisa puluhan kali lipat lebih mahal ketimbang pemasangan buoynamun biaya pemeliharaannya sangat kecil dibanding buoy karena kabel berada di bawah laut dan daya terpasang di stasiun power di daratan dan tidak menarik perhatian orang yang lewat sehingga kemungkinan besar terhindar dari vandalisme.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement