Senin 09 Dec 2019 17:58 WIB

Tanam Tebu di Cirebon Mundur Akibat Kemarau Panjang

Luas lahan tebu di Kabupaten Cirebon diperkirakan mencapai 6.000 hektare.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Nur Aini
Tanaman tebu.
Foto: Humas Balitbangtan.
Tanaman tebu.

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON – Musim kemarau panjang pada tahun ini telah berdampak pada budidaya tanaman tebu. Ketiadaan hujan hingga awal Desember, membuat musim tanam tebu 2019/2020 mengalami kemunduran.

Sekretaris Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jabar, Haris Sukmawan, menjelaskan, luas lahan tebu di Kabupaten Cirebon pada musim tanam 2019/2020 diperkirakan akan mencapai 5.500–6.000 hektare. Jumlah itu sama dengan luas lahan tebu pada musim tanam tahun lalu.

Baca Juga

‘’Dari jumlah itu, yang sudah mulai tanam sekarang paling hanya 5 – 10 persennya. Masih sedikit,’’ kata pria yang biasa disapa Wawan itu, kepada Republika.co.id, Senin (9/12).

Wawan mengatakan, sejumlah petani sebenarnya sudah mulai menyiapkan lahan tebu dengan pembajakan sejak sekitar Agustus. Namun, akibat kemarau panjang, lahan yang sudah dibajak itu tak kunjung bisa ditanami tebu. Malah banyak di antara lahan tersebut yang justru ditumbuhi gulma.

Selain itu, kata Wawan, banyak pula petani yang sebelumnya sudah menyiapkan bibit tanaman tebu. Namun karena hujan tak kunjung turun, bibit tersebut akhirnya menjadi tua, kering, dan tak layak tanam.

‘’Harusnya bibit-bibit tersebut sudah ditanam sejak Oktober. Tapi karena hujan belum turun, bibit belum bisa ditanam,’’ kata Wawan.

Wawan menambahkan, musim kemarau juga membuat tanaman tebu tris II yang sudah berjalan, mengalami keterlambatan pemupukan. Pasalnya, cuaca panas membuat pemupukan menjadi tidak efektif.

Dampak lainnya dari musim kemarau panjang terhadap tanaman tebu, kata Wawan, yakni terjadinya kebakaran pada lahan tebu di sejumlah lokasi. Kondisi itu menyebabkan para petani tebu mengalami kerugian.

Wawan menyatakan, saat ini para petani tebu sudah mulai melakukan pembajakan lahan. Mereka sedang bersiap melakukan tanam.

‘’Ya sekarang tinggal tunggu hujannya. Kalau sudah hujan sekali atau dua kali, mungkin tanam akan segera dilakukan,’’ kata Wawan.

Wawan mengungkapkan, keterlambatan musim tanam itu akan membuat musim giling pada 2020 juga mengalami kemunduran. Pada musim giling 2019, dilakukan pada awal Juni. Namun, karena musim tanam saat ini mundur, maka musim giling 2020 diperkirakan baru akan terlaksana pada akhir Juni atau awal Juli 2020.

Ketika ditanyakan mengenai stagnannya luas lahan penanaman tebu di Kabupaten Cirebon, Wawan menyatakan, hal itu dikarenakan kondisi budidaya tebu dan produksi gula yang memang belum berpihak pada nasib petani tebu. Akibatnya, tak sedikit petani tebu pemula yang memilih tidak menanam tebu lagi untuk sementara waktu.

‘’Yang sekarang masih bertahan adalah petani-petani tua yang memang memiliki keterikatan dengan sejarah tebu sejak dulu,’’ tutur Wawan.  

Hal senada diungkapkan seorang petani tebu asal Desa Japura Kidul, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Mae Azhar. Dia mengaku masih bertahan pada budidaya tebu karena kakeknya dulu merupakan seorang karyawan pabrik gula.

‘’Jadi saya ingin romantisme tebu itu selalu ada,’’ kata Mae, yang baru mulai menanam tebu pada 2013.

Mae mengakui, tak sedikit petani yang semula menanam tebu, akhirnya beralih pada tanaman lain yang dinilai lebih menguntungkan. Salah satunya berupa tanaman padi. Pasalnya, selama beberapa tahun terakhir, banyak kesulitan yang dihadapi petani tebu, di antaranya rendahnya rendemen dan harga gula.

‘’Mereka beralih karena tanaman tebu tak semanis rasa gulanya,’’ kata Mae.

Mae menambahkan, para petani tebu di Kabupaten Cirebon yang kembali menanam di musim tanam tebu 2019/2020, saat ini rata-rata sudah melakukan pengolahan lahan. Mereka telah siap melakukan penanaman sembari menunggu hujan.

‘’Musim tanam 2019/2020 mengalami kemunduran karena kemarau panjang,’’ tandas Mae.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement