Selasa 07 Nov 2023 13:51 WIB

Waspada Hujan Deras dan Angin Kencang di Jabodetabek Dipicu Badai Bow Echo

Peneliti BRIN memprediksi hujan deras masih akan terjadi di Jabodetabek.

Warga menerobos banjir yang merendam rumah di kawasan Kampung Melayu, Jakarta, Ahad (5/11/2023). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyebut sebanyak 54 RT di Jakarta seperti Cawang dan Kampung Melayu tergenang banjir setelah hujan mengguyur beberapa wilayah Jakarta pada Sabtu (4/11). `
Foto: ANTARA FOTO/RIFQI RAIHAN FIRDAUS
Warga menerobos banjir yang merendam rumah di kawasan Kampung Melayu, Jakarta, Ahad (5/11/2023). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyebut sebanyak 54 RT di Jakarta seperti Cawang dan Kampung Melayu tergenang banjir setelah hujan mengguyur beberapa wilayah Jakarta pada Sabtu (4/11). `

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Ronggo Astungkoro, Haura Hafizhah

Peneliti klimatologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin dalam unggahannya di media sosial X mengungkapkan, struktur badai Bow Echo tampak jelas di atas Bogor, yang berpotensi meluas dan bergabung dengan sel hujan lain. Dengan mengingat konveksi laut yang sedang kuat, hujan deras dan angin kencang dapat terus terjadi di Jabodetabek. 

Baca Juga

“Hujan deras teramati di Bogor, Depok, dan Jakarta. Struktur badai Bow Echo tampak jelas di atas Bogor, yang berpotensi meluas dan bergabung dengan sel hujan yang lain. Mengingat konveksi laut sedang kuat-kuatnya, hujan deras dan angin kencang dapat terus menghantam wilayah Jabodetabek,” kata Erma dalam cuitannya pada 5 November 2023, dikutip Senin (6/11/2023).

Di dalam unggahannya itu, Erma menyebutkan istilah Bow Echo. Kepada Republika, Erma menyampaikan penjelasan tentang istilah itu dengan memberikan tautan National Oceanic and Atmospheric Administration Amerika Serikat. Di sana dijelaskan, istilah Bow Echo didasarkan pada bagaimana kumpulan hujan atau badai petir ‘membungkuk’ ketika angin kencang badai mencapai permukaan dan menyebar secara horizontal.

 

Bow Echo biasanya muncul dari sekelompok badai, tapi bisa juga dimulai hanya dari satu badai supercell. Ketika aliran udara turun yang didinginkan oleh hujan mencapai permukaan bumi, aliran tersebut menyebar secara horizontal. 

“Udara yang lebih dingin dan padat memeluk permukaan saat menyebar, memaksa udara hangat-lembab yang lebih ringan naik ke atmosfer. Batas antara udara yang didinginkan oleh hujan dan udara hangat-lembab disebut ‘gust front’,” begitu penjelasan di laman tersebut.

Udara yang didorong oleh ‘gust front’ memulai pembentukan sel badai petir baru berikutnya. Saat sel baru ini matang, hujan yang dihasilkannya memperkuat "kolam" udara yang didinginkan oleh hujan, sehingga hembusan angin tetap mempertahankan kekuatannya. 

Seiring bertambahnya ukuran kolam dingin, hal itu menyebabkan masuknya udara di sisi belakang kompleks badai petir. Hal itu menyebabkan arus ke atas miring ke arah tepi belakang. 

Memiringkan arus ke atas memungkinkan awan kumulonimbus meluas lebih jauh, meningkatkan cakupan hujan di udara yang, pada gilirannya, semakin menambah kumpulan udara dingin di bawah badai petir. Dan dengan demikian memperkuat ‘gust front’ sehingga menyebabkan awan tersebut membungkuk.

Membengkoknya ‘gust front' memaksa lebih banyak udara lembab hangat naik, menciptakan sel-sel badai petir baru, dan proses tersebut berulang. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement