Rabu 13 Nov 2019 08:56 WIB
Melawan Aedes Aegypti dengan Wolbachia

Melawan Nyamuk DBD dengan Bakteri Serangga

Melawan Nyamuk DBD dengan Bakteri Serangga

Rep: Desy Susilawati/ Red: Muhammad Subarkah
Aedes Aegypti
Foto: EPA/Jeffrey Arguedas
Aedes Aegypti

Ana Tantiana (43 tahun) tiba-tiba demam tinggi. Badannya sangat lemas. Ia juga merasakan pusing, mual, dan muntah.

Namun, Ana mengabaikan gejala itu dan menggangap hanya mengalami sakit biasa. Ia pun tak segera ke dokter. "Padahal, sampai enggak bisa bangun. Karena mikir hanya pusing biasa, ya masih beraktivitas," kata Ana kepada Republika, Selasa (12/11).

Ana lantas curiga menderita demam berdarah dengue (DBD) karena panasnya tidak turun-turun. Ketika mengecek kesehatannya ke dokter, ternyata benar ia terkena DBD. Saat itu, trombosit Ana sudah di bawah 100 ribu. Trombositnya terus menurun hingga hari ketiga.

Beruntung, pada hari keempat, trombositnya naik. Kondisi Ana juga membaik. Akhirnya, dokter mengizinkannya untuk pulang. Ana hanyalah salah satu contoh kisah seseorang yang menderita DBD. Masih banyak kasus serupa yang membuat nyawa penderita DBD tak tertolong.

Kasus DBD yang marak terjadi di Indonesia setiap tahun mendorong Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) Adi Utarini untuk melahirkan terobosan dalam mengatasi penyakit DBD. Wanita yang akrab disapa Prof Uut itu merupakan salah satu penerima Anugerah Habibie Award untuk kategori bidang ilmu kedokteran.

Karyanya mendapatkan apresiasi dari Yayasan Sumber Daya Manusia dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Yayasan SDM IPTEK) yang menggelar penganugerahan Habibie Award yang ke-21, di Jakarta, Selasa (12/11).

Prof Uut yang merupakan Ketua Peneliti World Mosquito Program Yogyakarta bersama timnya berupaya membuktikan efektivitas terobosan baru untuk menurunkan kejadian demam berdarah secara biologis. Caranya dengan mengintervensi nyamuk Aedes Aegypti menggunakan bakteri Wolbachia. Wolbachia adalah salah satu genus bakteri yang hidup sebagai parasit pada hewan artropoda, salah satunya serangga.

Intervensi tersebut diduga mampu menghambat replikasi virus dengue dalam nyamuk sehingga mengurangi penularan kepada manusia. "Bakteri ini disuntikkan ke dalam nyamuk Aedes Aegypti. Bakteri itu akan menghambat replikasi virus demam berdarah. Sehingga, ketika nyamuk menggigit manusia, kemungkinan menularkan virus demam berdarah sudah sangat rendah," ujar dia dalam acara Penganugerahan Habibie Award Periode XXI-Tahun 2019, kemarin.

Prof Uut bersama tim menernak nyamuk yang telah disuntikkan bakteri Wolbachia. Wolbachia ini layaknya sebuah vaksin untuk nyamuk. Setiap pekan, nyamuk tersebut dibawa ke laboratorium diagnostik fakultas kedokteran untuk diperiksa apakah sudah mengandung Wolbachia atau belum.

Nyamuk yang sudah mengandung Wolbachia kemudian dilepaskan agar bisa mencari pasangan sehingga terjadi perkawinan dengan nyamuk yang belum terinfeksi Wolbachia.

"Kalau nyamuk betina sudah mengandung Wolbachia, anak-anak nyamuk itu akan ada Wolbachia di dalam tubuhnya," ujarnya.

Penelitian ini dimulai sejak 2011 dan sudah diujicobakan di Yogyakarta pada 2016. Hasilnya, terjadi penurunan angka demam berdarah di beberapa daerah di sana.

Prof Uut menjelaskan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengelompokkan demam berdarah ke dalam penyakit yang masih terabaikan, walaupun penyakit ini sebenarnya sudah sangat populer. Dari sisi beban penyakit, menurut data WHO pada 2019, infeksi dengue merupakan masalah kesehatan global dengan estimasi kejadian sekitar 390 juta orang setiap tahunnya.

Indonesia menempati posisi kedua dengan jumlah kasus dengue terbanyak di dunia setelah Brasil (WHO 2012). Sekalipun tingkat kematian akibat penyakit ini menurun di Indonesia, pengendalian penyakit dengue masih menjadi tantangan besar. Pada awal 2019, berita mengenai demam berdarah merebak di berbagai surat kabar nasional dan daerah dengan peningkatan kasus yang terjadi hampir di seluruh kabupaten di Indonesia.

"Tentu, bukan sebuah prestasi membanggakan, tapi sebuah keprihatinan. Indonesia ditemukan hampir di seluruh kabupaten lebih dari 500 kabupaten/kota dengan beban pembiayaan sangat tinggi," ungkapnya.

Prof Uut bukan satu-satunya sosok penerima Anugerah Habibie Award. Penghargaan ini juga diberikan kepada empat ilmuwan Indonesia lainnya yang telah memberikan kontribusi kepada bangsa. Mereka adalah Ivandini Tribidasari Anggraningrum (bidang ilmu dasar), Tati Latifah Erawati Rajab (bidang ilmu rekayasa), Eko Prasojo (bidang ilmu sosial dan politik), dan I Gusti Ngurah Putu Wijaya (bidang ilmu kebudayaan).

Ketua Dewan Pengurus Yayasan The Habibie Center Sofian Effendi mengatakan, Utarini adalah ahli dalam bidang kesehatan masyarakat yang memanfaatkan biologi molekuler untuk menanggulangi penyakit demam berdarah dengan cara menghambat penyebarannya. Dengan menginfeksi nyamuk //Aedes Aegypti// menggunakan bakteri Wolbachia, nyamuk tersebut menjadi steril dan tidak dapat menyebarkan demam berdarah kepada manusia. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement