Rabu 30 Oct 2019 18:56 WIB

Sorotan Usulan Anggaran Aneh, Anies: Ada Problem Sistem

Yang dipakai memang sistem digital, tetapi masih mengandalkan manual.

Rep: Flori Sidebang/ Red: Andi Nur Aminah
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (tengah) menghadiri pemakaman almarhum Presiden ke-3 Republik Indonesia BJ Habibie di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMP) Kalibata, Jakarta, Kamis (12/9/2019).
Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (tengah) menghadiri pemakaman almarhum Presiden ke-3 Republik Indonesia BJ Habibie di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMP) Kalibata, Jakarta, Kamis (12/9/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengaku sudah mengetahui dan memanggil pihak terkait mengenai usulan anggaran lem aibon sebesar Rp 82 miliar, pekan lalu. Anies mengungkapkan, terkait hal itu penyebabnya karena ada permasalahan sistem.

"Ini ada problem sistem, yaitu sistem digital tetapi tidak smart (cerdas)," kata Anies di Balai Kota, Jakarta, Rabu (30/10).

Baca Juga

Anies menilai, jika memiliki sistem digital yang cerdas (smart system), dapat dilakukan pengecekan, verifikasi, bahkan menguji usulan yang diajukan. Namun, kata dia, saat ini sistem yang ada masih mengandalkan cara manual.

"Kalau smart system dia bisa melakukan pengecekan, verifikasi, bisa menguji. Ini sistem digital, tetapi masih mengandalkan manual," ujar Anies.

Ia menyontohkan, pada saat mengajukan usulan pameran atau pentas musik, terdapat rekening dan komponen. Misalnya, jelas Anies, nilainya Rp 100 juta, maka dari jumlah tersebut harus ada turunan komponen yang perinci.

"Di kita diturunkan detail hanya pada level rencana. Padahal, yang dibutuhkan kegiatannya dulu karena akan dibahas dengan dewan. Sehingga setiap tahun staf itu banyak yang memasukkan. Yang penting masuk angka Rp 100 juta dulu, toh nanti yang penting dibahas," ujar dia.

Selain itu, sambung Anies, pengecekan dokumen yang ada pun masih dilakukan secara manual. Sehingga tidak jarang ada anggotanya yang mengerjakan secara teledor.

"Dokumen ada harus dicek manual, di level itu ada beberapa yang mengerjakan dengan teledor, toh diverifikasi dan dibahas. Cara-cara seperti ini berlangsung setiap tahun. Setiap tahun muncul angka aneh-aneh, kalau sistem smart, maka dia akan melakukan verifikasi," ungkapnya.

Oleh karena itu, Anies mengatakan, pihaknya sedang mengubah sistem yang ada sekarang menjadi sistem yang lebih cerdas. Sehingga, kejadian seperti saat ini tidak terulang lagi.

"Ya jadi sistemnya sekarang ini sudah digital, but not a smart system. Itu hanya digital saja, mengandalkan orang untuk me-review. Itu sudah berjalan bertahun-tahun. Karena itu, ini akan diubah, tidak akan dibiarkan begitu saja. Lets do it in a smart way," ujar Anies. "Sekarang baru mau diperbaiki, mudah-mudahan tahun 2020 bisa digunakan," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement