Sabtu 19 Oct 2019 21:19 WIB

Cerita Pilu Kompol Aditya Mulya Ramdhani

Kompol Aditya Mulya menjadi korban pengeroyokan 2 perguruan silat di Wonogiri.

Rep: Joglosemar/ Red: Joglosemar

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM - Kisah perjuangan dan pengabdian Kompol Aditya Mulya Ramdhani (35) kembali menyeruak. Di tengah perjuangannya bertahan untuk pulih, ternyata anak-anak dan istri masih setia menyemangati dan mendoakan.

“Papi, ayo cepat sembuh, kita berenang lagi,” Begitulah ketiga anaknya; Junot (10), Calista (9) dan Bianca (8) kerap menyemangati ayahnya yang kini hanya terbaring di salah satu kamar rumah mereka.

Lokasinya di Perumahan Taman Sari Hills, Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, di Blok D05/11. Papanya adalah Kompol Aditia Mulya Ramdhani (35), eks Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Wonogiri yang menjadi korban pengeroyokan ketika pecah bentrok dua perguruan silat di Wonogiri, Mei 2019 lalu.

“Cita-cita saya jadi seperti Papa (jadi polisi),” kata Bianca ketika ditemui di rumahnya tadi seperti dilansir Tribratanews Polda Jateng, Jumat (18/10/2019).

Cerita tentang anak-anak yang terus menyemangati itu disampaikan Dewi Setyawati (39), istri dari Aditia. Tiga anak itu adalah buah hati mereka.

Dewi bercerita, pasca suaminya pulang dari perawatan di Singapura pada 17 September itu, ada sejumlah perkembangan bagus. Salah satunya; sudah bisa merespons walaupun cuma gerakan tangan ringan, senyum ataupun respons mata.

Salah satu responsnya ketika anak-anak menyemangati hal itu. “Biasanya kalau mereka selesai belajar, pada tiduran di samping Papinya. Kalau mau berangkat sekolah juga pamitan ‘Pi, berangkat sekolah dulu’, pulang sekolah juga,” sambung Dewi.

Aditia merespons, salah satunya lewat mata atau gerakan tangan itu. Dewi menyebut, ketika awal-awal kejadian, tidak menceritakan anaknya. Tetapi, informasi itu akhirnya didapat ketika anak-anak membuka YouTube, ada berita tentang kejadian yang menimpa ayahnya.

Akhirnya, walau berat hati, Dewi menceritakan perlahan apa yang menimpa ayah mereka. “Alhamdulillah mereka bisa menerima, bahkan terus menyemangati,” lanjutnya.

Hal itu juga yang menjadi penguat hati Dewi untuk terus bersabar dan telaten merawat suaminya. Dia meyakini itu adalah ibadah, termasuk ketika suaminya sedang bekerja juga adalah ibadah. Jadi Dewi punya keyakinan apa yang menimpa suaminya adalah ketika sang suami sedang beribadah.

Setiap pukul 05.00 WIB, Dewi memandikan suaminya kemudian membawa keluar agar terkena sinar matahari. Tetapi tetap dalam pengawasannya, sebab saat ini belum bisa menghirup udara bebas, masih menggunakan alat bantu pernafasan.

Setiap 3 jam sekali, Dewi mengganti pampers untuk sang suami. Tiap 1 jam, terus memeriksa kondisinya, termasuk rutin memberikan nutrisi otak sebab bagian itulah yang mengalami kerusakan sebab penganiayaan tersebut.

“Alhamdulillah sekarang terus bagus perkembangannya. Bisa merespons, kalau ada teman-temannya yang datang yang dia kenal, dia merespons walaupun hanya gerakan tangan,” sambung Dewi.

Dari pihak Polri sendiri perhatian terus diberikan. Baik dari Polda Jawa Tengah maupun Mabes Polri. Seperti pada Jumat (18/10/2019) itu, sejumlah perwira dari Mabes Polri, di antaranya AKBP M. Iqbal juga dari Polda Jawa Tengah, datang ke rumah Kompol Aditia untuk membesuk.

Sejumlah dokter, baik dokter umum maupun spesialis dari RS Bhayangkara Semarang juga datang. Mereka memang rutin melakukan pemeriksaan dengan kunjungan rumah.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RS Bhayangkara Semarang, dr Niken Diah, mengatakan alasan Kompol Aditia dirawat di rumah karena kondisinya sudah stabil.

“Juga dekat dengan keluarga, harapannya agar cepat memulihkan kondisi psikologinya,” kata Niken.

Dia menyebut, dokter umum dan tim dokter spesialis di antaranya spesialis bedah, mata, syaraf, THT hingga penyakit dalam, juga rutin memantau kondisi Kompol Aditia.

“Memang perkembangannya sudah bagus, sudah bisa merespons. Misal kalau tidak nyaman di pegang di bagian mananya, tangannya menarik atau bergeser, itu merespons,” ungkap Niken.

Dokter Spesialis Bedah RS Bhayangkara Semarang, dr Adi Purnomo, menjelaskan selain masih dipasang alat bantu nafas, juga dipasang alat untuk memasukan nutrisi makanan. Dari dinding perut langsung ke lambung.

Alat bantu nafas itu diganti tiap 3 bulan, sementara alat bantu untuk memasukkan nutrisi makanan diganti tiap 6 bulan.

“Saat ini dua alat ini vital untuk kelangsungan hidup Kompol Aditia. Masih perlu dipasang karena kondisi kesadarannya yang belum memungkinkan melakukan sendiri,” tambah dr Adi.

Soal respons, dr Adi juga mengatakan hal yang sama.

“Beliau (Kompol Aditia) sebenarnya tahu (bisa merespons), buka mata, menggerakan sedikit anggota geraknya (tubuh), jadi kalau ada yang masuk (membesuk) beliau tahu,” tutupnya.

 

The post appeared first on Joglosemar News.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan joglosemarnews.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab joglosemarnews.com.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement