Sabtu 12 Oct 2019 08:04 WIB

Jokowi-Prabowo Seriusi Koalisi

Kedua mantan pesaing di Pilpres 2019 memamerkan kemesraan di Istana.

Prabowo Subianto dan Jokowi bertemu di istana, Jumat (11/10).
Foto: Dessy Suciati Saputri
Prabowo Subianto dan Jokowi bertemu di istana, Jumat (11/10).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka, Jumat (11/10). Kedua pihak mengakui, pertemuan itu membicarakan kemungkinan masuknya Gerindra dalam koalisi pendukung pemerintah.

Pertemuan kemarin berlangsung pada pukul 15.15 WIB. Berdasarkan pantauan, baik Jokowi maupun Prabowo sama-sama berkemeja putih. Keduanya berjabat tangan sebelum memulai pembicaraan.

Baca Juga

Selepas pertemuan yang berlangsung selama satu jam, keduanya menggelar konferensi pers bersama. Baik Prabowo maupun Jokowi juga tampak banyak tersenyum saat menyampaikan keterangan kepada wartawan.

Dalam konferensi pers, Prabowo menyatakan kesediaannya untuk membantu Pemerintahan Jokowi nanti. "Kita bertarung secara politik, begitu selesai, kepentingan nasional yang utama. Saya berpendapat, kita harus bersatu. Jadi saya sampaikan ke beliau, apabila kami diperlukan, kami siap untuk membantu, itu pun sudah saya sampaikan di MRT waktu itu," ujar pesaing Jokowi dalam Pilpres 2019 itu.

Prabowo mengatakan, Partai Gerindra akan lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara setelah pemilihan presiden berakhir. Partai Gerindra pun siap memberikan berbagai gagasan yang dibutuhkan bangsa.

"Kalau kami diperlukan, kami siap. Kami akan memberi gagasan yang optimistis, kami yakin (perekonomian) Indonesia bisa tumbuh dobel digit, kami yakin Indonesia bisa bangkit cepat. Kami ingin membantu dan kami siap membantu kalau diperlukan," kata dia.

Dalam pertemuan ini, Prabowo juga menyinggung soal kemungkinan bergabungnya Partai Gerindra ke pemerintahan. Masalah kursi kabinet ini sempat dibahas, tapi belum mencapai kesepakatan. "Kalau umpamanya kita tidak masuk kabinet, kami tetap akan loyal di luar sebagai... apa istilahnya, check and balance, sebagai penyeimbang, kan kita di Indonesia enggak ada oposisi ya, Pak?" ujar Prabowo sembari menoleh ke Jokowi.

Sementara itu, Jokowi juga mengatakan, dalam pertemuan tersebut banyak dibahas mengenai kemungkinan koalisi Partai Gerindra dengan pemerintah. Namun, menurut dia, pembahasan mengenai rencana bergabungnya Partai Gerindra ke pemerintahan belum mencapai kesepakatan final.

"Yang ketiga juga yang berkaitan dengan masalah koalisi. Tapi untuk urusan satu ini belum final. Tapi kami tadi sudah berbicara banyak mengenai kemungkinan Partai Gerindra masuk ke koalisi kita," ucap Jokowi.

Jokowi berjanji akan menyampaikan kepada masyarakat jika keputusan terkait koalisi pemerintahan tersebut sudah final. "Kalau nanti sudah final, baru nanti kita sampaikan berdua lagi ya," kata dia.

Menjelang berakhirnya keterangan bersama, Prabowo menyebut hubungannya dengan Jokowi sangatlah mesra. "Saya kira demikian, hubungan saya baik, bisa dikatakan mesra gitu Pak ya? Hahahaha… banyak (yang) nggak suka mungkin," ujar Prabowo. "Sangat mesra, sangat mesra," kata Jokowi menimpali.

Kemesraan hubungan keduanya pun ditunjukkan Jokowi dan Prabowo dengan melakukan swafoto bersama. Setelah melakukan konferensi pers bersama, Jokowi sempat mengantarkan Prabowo ke pintu keluar Istana.

Namun, tiba-tiba keduanya kembali lagi menuju tempat digelarnya konferensi pers untuk berswafoto dengan awak media. Prabowo juga menjanjikan akan menghadiri pelantikan presiden dan wakil presiden pada 20 Oktober nanti.

photo
Presiden Joko Widodo saat bertemu dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (10/10) siang ini.

Sehari sebelum pertemuan dengan Prabowo, Jokowi juga menerima kunjungan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Seperti Gerindra, Demokrat juga bukan pendukung Jokowi-KH Ma’ruf Amin pada Pilpres 2019.

Selepas pertemuan dengan SBY, Jokowi juga mengakui, mereka membicarakan soal kemungkinan Demokrat bergabung dengan pemerintah dengan disertakan dalam kabinet. Kendati demikian, belum ada keputusan terkait hal ini. "Ditanyakan ke Pak SBY langsung. Kita bicara itu, tapi belum sampai sebuah keputusan," kata Jokowi, Kamis (10/10).

Menjelang pelantikan Jokowi, isu soal posisi menteri di kabinet nanti kian santer beredar. Masing-masing parpol, baik pendukung maupun yang sebelumnya berseberangan dengan Jokowi sama-sama menyatakan kesiapan mengisi posisi-posisi di kabinet.

Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah mengatakan, partainya terbuka apabila ada partai politik di luar Koalisi Indonesia Kerja (KIK) bergabung. "Sikap PDIP membuka diri terhadap kerja sama itu," kata Basarah di kompleks Parlemen Senayan, Jumat. Ia mengatakan, PDIP menganut prinsip gotong royong, khususnya dalam mengelola negara.

Namun, dia menegaskan, keputusan akhir terkait dengan bergabungnya parpol di luar KIK dalam koalisi pemerintahan, berada di tangan Jokowi untuk memutuskan. Terkait pertemuan dengan Prabowo kemarin, menurut dia, substansi pembicaraan dan kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan itu bergantung pada keputusan politik Jokowi.

"Karena kalau dalam bentuk kerja samanya adalah di kabinet, wewenang prerogatif itu ada di tangan Jokowi," kata dia. n dessy suciati saputri/antara ed: fitriyan

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement