Rabu 09 Oct 2019 17:20 WIB

Karhutla Dumai & Siak Berkurang Signifikan karena Restorasi

BRG menyatakan Dumai dan Siak menjadi contoh keberhasilan restorasi.

Kabut asap kebakaran hutan dan lahan di Minas, Kabupaten Siak, Riau, pada September 2019. (ilustrasi)
Foto: Antara/FB Anggoro
Kabut asap kebakaran hutan dan lahan di Minas, Kabupaten Siak, Riau, pada September 2019. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Restorasi Gambut (BRG) menyebutkan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Dumai dan Siak, Provinsi Riau, berkurang signifikan tahun ini karena dipicu salah satunya program restorasi. BRG menyatakan Dumai dan Siak menjadi contoh keberhasilan restorasi.

"Dumai menjadi contoh keberhasilan program restorasi gambut dan membuktikan revitalisasi ekonomi berhasil mampu mencegah kebakaran hutan. Pengurangan drastis (karhutla) juga terjadi di Siak," kata Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead, dalam penjelasannya di Jakarta, Rabu (9/10).

Baca Juga

Berdasar data yang dihimpun dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan tingkat kepercayaan 70 persen, kata dia, pada puncak karhutla September lalu tercatat hanya ada satu titik panas di Dumai. Padahal, pada kejadian karhutla yang cukup parah di Juli 2015, BMKG mencatat ada enam titik panas terdeteksi di Dumai.

Ia mengatakan, BRG sebagai pemegang mandat restorasi, melakukan upaya rewetting, revegetasi, dan revitalisasi di lahan gambut Kota Dumai dengan melibatkan masyarakat secara aktif. Setelah lahan gambut berhasil direstorasi, masyarakat pun diajak memanfaatkan lahannya agar tumbuh rasa memiliki area tersebut.

Menurut Nazir, tanaman yang dipilih untuk dimanfaatkan adalah tanaman pertanian seperti lahan di Desa Mundam, Kecamatan Kampai, yang pernah mengalami kebakaran sampai seluas 20 hektare, kini ditanami nanas oleh masyarakat setempat. "Inilah bentuk upaya revitalisasi lahan yang sudah direstorasi sebelumnya," ujarnya.

Di Desa Bukit Timah, Kecamatan Dumai Selatan, masyarakat juga dilibatkan dalam program revitalisasi ekonomi lahan gambut dengan budidaya lebah penghasil madu. "Lahan gambut bekas kebakaran, setelah direstorasi juga perlu dikembalikan nilai ekonominya. Supaya program restorasi bisa berkelanjutan dan lahan bekas kebakaran tak lagi dibakar," kata Nazir.

Adapun di Siak, lanjut dia, sebagai salah satu daerah yang memiliki lahan gambut terbesar di Sumatera, juga mengalami penurunan jumlah titik api cukup signifikan. Persentase titik api di Siak hanya sekitar enam persen. Ini merupakan salah satu angka titik api yang paling rendah di Provinsi Riau.

Kabupaten yang 57 persen daerahnya adalah lahan gambut ini, kata dia, pengelolaannya diiringi dengan upaya menjaga ketinggian permukaan air dan memastikan lahannya tetap produktif. Apalagi, tanaman-tanaman seperti sagu, kayu mahang, dan aren jadi andalan masyarakat di sana.

"Kami memastikan lahan agar tetap produktif dan memiliki nilai ekonomi, sekaligus memberikan pemahaman pertanian perkebunan tanpa mengeringkan lahan gambut," ujar Nazir.

Karena itu, untuk menciptakan kisah yang lebih sukses di tempat lainnya, kata Nazir, diperlukan mengedepankan kesamaan visi antara pemerintah provinsi, pemerintah daerah, serta kementerian terkait dalam mengupayakan restorasi lahan gambut berkelanjutan. Termasuk, kata dia, pentingnya membentuk Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) oleh gubernur yang daerahnya masuk sebagai prioritas restorasi.

"Dengan banyaknya pihak yang terlibat dalam upaya restorasi, ke depan memang sudah selayaknya ada satuan kerja BRG di daerah. Namun, saat ini TRGD sudah cukup sebagai perpanjangan tangan BRG dalam upaya menyamakan visi restorasi bersama," kata Nazir.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement