REPUBLIKA.CO.ID, Untuk pertama kalinya, Akademik Angkatan Udara (AAU) menghasilkan dua pilot perempuan pertama di Indonesia. Kedua perempuan hebat tersebut adalah Letda Pnb Anisa Amalia Octavia dan Letda Pnb Mega Coftiana.
Anisa dan Mega memiliki riwayat pendidikan yang serupa, yakni lulusan SMA Taruna Nusantara. Lalu keduanya melanjutkan pendidikan di AAU selama empat tahun di Magelang dan Yogyakarta. Setelah lulus, mereka mencoba masuk ke Sekolah Penerbangan hingga kemudian menjadi pilot perempuan pertama dari AAU.
Pada penempatan, Anisa dan Mega sama-sama dipercaya untuk mengendalikan 'burung besi' jenis pesawat angkut. Yang membedakan, Anisa pada pesawat Hercules C-130 sedangkan Mega di kelas CASA 212. Capaian ini membuat Anisa menjadi pilot perempuan pertama pesawat Hercules C-130.
Kepada Republika.co.id, Anisa mengaku bangga dan senang berhasil menjadi pilot perempuan pertama pesawat Hercules. Namun capaian ini juga menjadi beban moril bagi perempuan kelahiran Sleman, 13 Oktober 1994 tersebut. "Soalnya saya kan pertama dan menjadi contoh nantinya untuk adik penerus, saya menjadi percobaan bisa atau nggak dikasih Hercules," kata Anisa.
Pilot perempuan pertama pesawat Hercules C-130, Letda Pnb Anisa Amalia Octavia.
Di balik keberhasilan Anisa saat ini sebenarnya ada perjuangan yang cukup besar. Semula, Anisa agak ragu untuk masuk dan menjadi bagian dari sekolah penerbangan. Fobia ketinggian dan izin dari orang tua merupakan faktor utama keraguan tersebut.
Saat proses seleksi, Anisa masih begitu ingat bagaimana tegang dan kaku badannya saat pertama kali menerbangkan pesawat. Namun Anisa berusaha menutup kelemahannya ini di hadapan para instruktur. Lalu tanpa disangka, Anisa tetap dinyatakan lolos menjadi bagian sekolah penerbangan.
"Sudah terlanjur masuk, ya sudah dilaksanakan dan berusaha melewatinya sampai selesai. Saya nggak bisa mundur lagi. Saya harus selesaikan pendidikan itu dan mengubah mindset," jelas perempuan berhijab ini.
Fobia ketinggian yang telah muncul sejak kecil, kini sudah menghilang. Anisa tidak tahu persis kapan fobia tersebut lenyap dalam dirinya. Namun ia meyakini fobia tersebut lenyap karena dia telah terbiasa dengan ketinggian.
"Karena saya mikirnya, kalau saya mempertahankan fobia, saya akan terseok di pendidikan. Jadi saya coba hilangkan agar bisa mudah menyelesaikan pendidikan," jelas anak pertama dari tiga bersaudara ini.
Pilot perempuan pertama pesawat Hercules C-130, Letda Pnb Anisa Amalia Octavia.
Sekarang, Anisa setidaknya sudah memiliki 100 jam terbang pada pesawat latih jenis TP-120. Kemudian dia juga pernah memiliki 100 jam terbang pada pesawat jenis KT 1 B. Sementara pada pesawat Hercules sekitar delapan jam terbang.
"Sekarang juga saya jadi senang melakukan manuver ekstrem pesawat. Orang tua juga sudah mengizinkan, malah ibu selalu mendoakan saya," tambahnya.
Rasa bangga menjadi pilot perempuan pertama dari AAU tidak hanya dirasakan Anisa, tapi Mega juga. Dia selalu berpikir, pilot lebih banyak dikendalikan oleh kalangan pria. Namun stigma itu kini terpecahkan setelah dia menjadi bagian tersebut.
Mega sendiri tidak mempermasalahkan bahwa dia bukan pilot perempuan pertama pada pesawat CASA 212. Sebab, telah ada perempuan hebat sebelumnya yang menggeluti bidang tersebut. Namun tetap saja pilot perempuan di pesawat jenis tersebut masih sangat sedikit.
"CASA memang sudah ada, tapi kebanyakan hampir sudah pensiun semua. Kalau Hercules memang baru pertama itu Kak Nisa," ujarnya.
Meski bukan pertama, Mega tetap memandang profesi penerbang pada pesawat angkut tidak mudah. Hal ini terutama pada penggunaan alat kontrol pesawat yang cukup membuatnya kewalahan. "Kalau pesawat latih kan pakai joystick ringan satu engine. Kalau sekarang pakai pesawat yang dua engine. Malah dia (Anisa) pakai empat. Semakin banyak (joystick), jadi semakin berat," kata perempuan kelahiran 1995 ini.
Karena keterbatasan kekuatan, Mega dan Anisa pun ditekankan untuk terus melatih raganya. Kedua perempuan yang kini ditugaskan di Lanud Abd Saleh Malang tersebut harus melakukan olahraga push up dan mengangkat barbel setiap hari. Upaya ini ditunjukkan agar kedua tangan mereka bisa lebih kuat saat mengendalikan alat kontrol pesawat.
Saat ini, Mega dan Anisa menegaskan, akan terus berupaya dan melatih diri menjadi lebih baik. Keduanya akan tetap semangat menggeluti profesinya sebagai penerbang meski itu sulit. Selain membantu banyak pihak, pemahaman profesinya ini kelak dapat dipelajari penerusnya.