Selasa 10 Sep 2019 04:00 WIB

Anies dan Ornamen-Ornamen Kota Jakarta

Pembangunan ornamen Jakarta selalu diikuti dengan ‘drama’.

Esthi Maharani
Foto: dok. Republika
Esthi Maharani

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Esthi Maharani*

Jakarta adalah kota yang tak pernah berhenti bersolek. Pembangunan infrastruktur terus dilakukan. Hal ini pun dibarengi dengan sejumlah pembangunan yang sifatnya estetik dan artistik. Tetapi, bukan Jakarta namanya apabila pembangunan tersebut tak dibarengi drama terutama dari segi dana dan fungsinya.

Pembangunan jembatan penyebrangan orang (JPO) salah satunya. Pada Februari 2019, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan meresmikan tiga jembatan penyeberangan orang (JPO) kekinian yang berlokasi di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. Tiga jembatan itu masing-masing JPO Bundaran Senayan, JPO Gelora Bung Karno (GBK), dan JPO Polda Metro Jaya.

Ketiga jembatan tersebut kini tampak indah setelah mendapat revitalisasi dengan desain yang artistik dan unik. Revitalisasi tiga JPO tersebut menggunakan dana kompensasi dari kelebihan koefisien lantai bangunan (KLB) PT Permadani Khatulistiwa Nusantara senilai Rp 53 miliar.

Anies pun berharap proyek tersebut menjadi babak baru dalam penataan DKI Jakarta. Ia mengatakan, bukan saja fungsi JPO yang bisa memenuhi kebutuhan warga, tetapi artistiknya juga dapat memberi suasana baru.

"JPO harus memberikan pengalaman yang baru, oleh karena itu setiap kali pejalan kaki melewati, dia sedang merasakan pengalaman yang unik," ujar Anies waktu itu.

Meski menuai pro dan kontra, tetapi setelah peresmiannya JPO tersebut menjadi salah satu ikon Jakarta. Banyak yang memanfaatkannya sebagai tempat hiburan tanpa bayaran. Bahkan JPO tersebut menjadi sarana bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan warga Jakarta untuk menyampaikan solidaritas. Pada 22 April 2019, JPO Gelora dinyalakan warna bendera Sri Lanka selama satu minggu sebagai penanda solidaritas Jakarta. Kala itu, tepat hari Paskah, terjadi ledakan yang menewaskan ratusan orang.

Jakarta juga dulu punya hiasan lain yang menuai debat publik. Namanya Getah Getih, karya seniman Joko Avianto. Instalasi bambu Getah Getih mulai terpasang pada 15 Agustus 2018 dengan menghabiskan dana Rp.550 juta. Kala itu, Anies lagi-lagi mengatakan bambu tersebut difungsikan untuk menambah estetika Jakarta serta sebagai simbol persatuan sekaligus bentuk penyambutan Asian Games XVIII.

"Ada makna tersirat tentang kokoh tapi lentur, tegak tapi liat, kecil tapi raksasa, ribuan tapi menyatu, satuan tapi tak terserak. Karya bambu tersebut mengandung makna gagasan sebuah kesatuan dan persatuan yang terdapat dalam susunannya," ujar Anies.

Pada 17 Juli 2019 atau 11 bulan kemudian, Getah Getih dibongkar karena kondisi bambu mulai rapuh karena efek cuaca. Getah Getih digantikan dengan susunan batu Gabion serta tanaman hias. Gabion ialah susunan batu yang ditumpukkan dan diikat menggunakan tali menyerupai kawat. Tumpukan batu disusun rapi dan di atasnya di letakkan sejumlah tanaman. Pemasangan Gabion tersebut menghabiskan dana sebesar Rp150 juta dari APBD 2019.

Anggaran Gabion sudah dianggarkan sejak setahun lalu. Adapun nomenklatur yang tercatat di APBD 2019 ialah Anggaran Ornamen Kota. Pengadaan ornamen kota bisa diimplementasikan dengan berbagai macam instalasi atau tanaman tergantung kebutuhan.

Gabion dengan sejumlah tanaman ini diadakan untuk mengurangi polusi udara Jakarta. Tanaman yang ditanam oleh Dinas Kehutanan DKI di Gabion tersebut ialah Bougenvile, Loly pop dan Sansiviera.

Saya ingin mengatakan bahwa Jakarta adalah kota yang tak akan pernah berhenti berbenah. Kali ini, Jakarta ‘dibedaki’ dengan berbagai ornamen yang diharapkan bisa memberikan warna baru. Ornamen berupa hiasan ini diharapkan bisa memberikan angin segar serta jeda bagi warganya untuk menjalani hari dengan lebih santai dan menikmati moment sekitar.

Tapi bagi saya, sepertinya ada banyak yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan membangun ornamen kota. Mulai dari anggaran yang dibutuhkan, sumber anggaran, letak ornament kota, fungsinya, dan yang terpenting kesesuaian dan ketepatannya dengan karakteristik kota Jakarta. Meskipun saya sendiri inginnya Jakarta memiliki ikon atau landmark yang bisa dibanggakan warganya selain tentu saja Monumen Nasional alias Monas.

*) Penulis adalah jurnalis republika.co.id

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement