Selasa 06 Aug 2019 19:36 WIB

Ribuan Jaring Nelayan tak Bisa Digunakan Akibat Spill Oil

Jaring nelayan yang sudah terkena ceceran minyak itu, jadi sulit untuk dibersihkan.

Rep: Ita Nina Winarsih/ Red: Agus Yulianto
Nelayan Kabupaten Karawang, antusias menjadi pengumpul limbah minyak mentah di laut utara tersebut, Senin (29/7).
Foto: dok. TPI Cipucuk
Nelayan Kabupaten Karawang, antusias menjadi pengumpul limbah minyak mentah di laut utara tersebut, Senin (29/7).

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG -- Dinas Perikanan Kabupaten Karawang, melansir, sedikitnya 1.373 jaring nelayan yang terdampak ceceran limbah minyak milik Pertamina Hulu Energi (PHE) ONWJ. Jaring tersebut, terkena ceceran limbah spill oil, sehingga tidak bisa digunakan lagi oleh nelayan.

Kasi Kelembagaan Nelayan Dinas Perikanan Kabupaten Karawang, Setya Saptana, mengatakan, nelayan Karawang ini mayoritas perahunya dengan kapasitas tujuh grosston (GT). Adapun, nelayan ini kebanyakan merupakan pencari rajungan, udang dan ikan.

"Tetapi, sejak pencemaran spill oil terjadi, nelayan tak bisa mencari ikan lagi. Bahkan, saat ini sudah ribuan jaring nelayan yang turut terdampak pencemaran tersebut," ujar Setya, kepada sejumlah media, Selasa (6/8).

Jaring nelayan yang sudah terkena ceceran minyak itu, jadi sulit untuk dibersihkan. Salah satunya, karena lengket. Karena kondisi ini, pihaknya sedang melakukan pendataan sampai verifikasi. 

Nantinya, data ini akan dilaporkan ke tim verifikasi kompensasi. Untuk selanjutnya, dilaporkan ke pihak Pertamina ONWJ. Selain jaring nelayan, lanjut Setya, sejumlah hutan mangrove juga turut terdampak.

"Tetapi, kami belum memiliki data, berapa luasan hutan mangrove yang turut terkena imbas dari kebocoran minyak ini," ujarnya.

Dengan adanya kondisi ini, pihaknya menghimbau kepada nelayan yang terdampak pencemaran minyak mentah untuk segera melaporkannya. Laporannya langsung ke instansinya. Mengingat, instansi ini merupakan tim kompensansi yang telah diamanatkan oleh Bupati Karawang. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement