Rabu 31 Jul 2019 09:24 WIB

Ratusan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Dipulangkan

Sebanyak 294 PMKS sudah diizinkan pulang setelah dinyatakan sembuh.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Andi Nur Aminah
Sejumlah preman dan pengamen dirazia petugas (ilustrasi)
Sejumlah preman dan pengamen dirazia petugas (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya Supomo mengaku, setiap bulan pihaknya rutin memulangkan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) ke daerah asalnya. Selama 2019, tepatnya hingga Juni, sebanyak 294 PMKS sudah diizinkan pulang setelah dinyatakan sembuh oleh tim dokter spesialis jiwa.

Rinciannya, pada Januari 2019, 20 PMKS yang dipulangkan, Februari 51 PMKS, Maret 61 PMKS, April 38 PMKS, Mei 42 PMKS, dan Juni 82 PMKS. “Totalnya hingga Juni 2019 sudah mencapai 294 PMKS yang dipulangkan,” kata Supomo di Surabaya, Rabu (31/7).

Baca Juga

Menurut Supomo, para PMKS yang dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang itu diantar oleh relawan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK). Para relawan ini mengantarkan PMKS tersebut hingga sampai ke keluarganya masing-masing, sehingga tidak dibiarkan terlantar sendirian.

Supomo juga menjelaskan, pemulangan PMKS yang sudah sembuh itu sangat penting karena PMKS baru selalu berdatangan. Meskipun selalu rutin dipulangkan, tapi sampai saat ini penghuni Liponsos masih sangat banyak.

“Hingga saat ini, penghuni Liponsos mencapai 1.073 orang. Sebanyak 948 orang berada di Liponsos dan 125 orang lainnya sedang menjalani rawat inap, 70 orang di Rumah Sakit Lawang, dan 50 orang lagi di Rumah Sakit Menur,” kata Supomo.

Lebih rinci, Supomo menjelaskan, dari 948 orang itu, 824 orang ODGJ (orang dengan gangguan jiwa), 47 orang gepeng, 49 orang lansia, 11 orang anjal, dan 17 orang tindak asusila. Sebagian besar dari mereka bukan asli Surabaya, melainkan berasal dari luar kota dan bahkan luar pulau. Seperti Aceh, Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua, Sumatera, dan Bengkulu.

“Kita kerja sama dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil untuk membantu menemukan identitas pasien. Kita gunakan finger print untuk mencari data para PMKS yang sudah masuk ke Liponsos,” kata dia.

Dari data finger print itu, beberapa di antara PMKS itu langsung diketahui alamatnya. Sehingga apabila sudah dinyatakan sembuh oleh tim dokter, bisa lebih gampang untuk memulangkannya. Sebelum dipulangkan, kata dia, biasanya Dinsos berkoordinasi terlebih dahulu dengan Dinsos tempat asal PMKS itu.

“Tapi kadang walaupun belum pulih betul, kita tetap pulangkan, karena ternyata keluarganya sudah merindukannya. Sedangkan yang belum diketahui identitasnya, kami sehatkan terlebih dahulu,” kata dia.

Supomo bersyukur, karena data dari tahun ke tahun yang masuk ke Liponsos sudah ada pengurangan. Ia pun menyebutkan data pada 2017, dimana saat itu penghuni Liponsos mencapai 1.600 orang. Kemudian di 2019, sudah menurun menjadi 1.073 orang.

"Ya kalau dibanding tahun 2017 memang ada pengurangan, karena mungkin sudah banyak yang tahu kalau ngemis dan ngamen di Surabaya akan ditangkap, sehingga mereka sudah agak takut kalau ngamen di Surabaya,” ujar Supomo.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement