Senin 03 Jun 2019 21:41 WIB

Penumpang Diminta Pahami dan Ikuti Aturan Pelayaran

KSOP Sorong juga sudah menyiapkan beberapa kapal cadangan.

 Penumpang turun dari kapal KM Labobar asal tujuan pelabuhan Sorong, Papua, di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (23/8). (Edwin Dwi Putranto/Republika)
Penumpang turun dari kapal KM Labobar asal tujuan pelabuhan Sorong, Papua, di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (23/8). (Edwin Dwi Putranto/Republika)

REPUBLIKA.CO.ID,  SORONG -- Ditjen Perhubungan Laut mengimbau agar para penumpang angkutan laut lebaran 2019 untuk memahami dan mengikuti aturan keselamatan pelayaran guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Demikian yang disampaikan oleh Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Capt Wisnu Handoko saat melakukan monitoring angkutan laut Lebaran 2019 di Sorong, Papua hari ini (3/6) didampingi Kepala KSOP Kelas I Sorong, Takwim dan Kepala Distrik Navigasi Kelas I Sorong, Haekal Marasabessy.

Wisnu mengatakan, hingga Senin (3/6) penyelenggaraan angkutan laut lebaran di wilayah Sorong dan sekitarnya, berjalan dengan aman, selamat, tertib dan nyaman. Namun, diakuinya, perlu ada perubahan kebiasaan masyarakat dalam menggunakan kapal laut sebagai sarana mudik,  khususnya di wilayah Indonesia bagian Timur agar bisa lebih tertib sebagai penumpang kapal mulai dari merencanakan bepergian, membeli tiket sampai dengan embarkasi pada hari keberangkatan kapal.

"Perlu adanya perubahan budaya mudik masyarakat menggunakan kapal laut khususnya di Papua. Agar tidak memaksakan diri naik ke kapal jika kapasitas kapalnya sudah melebihi batas yang diijinkan. Hal ini semata-mata untuk keselamatan kita bersama," ujar Wisnu dalam keterangannya yang diterima Republika.co.id, Senin (3/6).

Dikatakan Wisnu, para penumpang yang belum dapat terangkut agar mempunyai kesadaran dan dengan ikhlas bersedia naik kapal pada jadwal berikutnya. Karena dari laporan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Sorong disebutkan bahwa setelah kapal KM Gunung Dempo diberangkatkan pada 27 Mei dengan penumpang naik penuh sesuai dengan kapasitas Dispensasi kelebihan penumpang yang diberikan, berikutnya masih ada kapal KM Ciremai dan KM. Tidar dengan jumlah penumpang yang naik tenyata di bawah kapasitas kapal termasuk kapasitas dispensasi penambahan jumlah penumpang. 

"Artinya nampak dalam hal ini, para penumpang di Pelabuhan Sorong banyak yang memaksakan diri untuk dapat terangkut dengan Kapal KM Gunung Dempo meskipun masih sesuai kapasitas kapal yang diberikan dengan tetap mengutamakan faktor keselamatan namun akibatnya faktor kenyamanan sedikit berkurang," kata Wisnu menanggapi adanya informasi keluhan penumpang Kapal KM. Gunung Dempo dengan rute Sorong - Surabaya yang beredar di saluran komunikasi WhatApp (WA) beberapa waktu yang lalu.

Di samping itu, Ditjen Perhubungan Laut melalui Kantor KSOP Sorong juga sudah menyiapkan beberapa kapal cadangan seperti KM. Sabuk Nusantara 75, KM Miami, Kapal Kenavigasian KN. Yefius dan Kapal Latih Frans Kaisiepo untuk mengangkut penumpang yang tidak terangkut dengan KM. Gunung Dempo.

Namun demikian,  Wisnu mengatakan, bahwa Pemerintah terus melakukan evaluasi dan mencari langkah-langkah terkait penyelenggaraan angkutan laut Lebaran agar semakin baik kedepannya. "Langkah ke depan yang harus diperbaiki adalah mengatur kembali manajemen rute deviasi kapal-kapal PT. Pelni saat angkutan laut Lebaran dan juga angkutan Natal dan Tahun Baru dengan prioritas pelabuhan- pelabuhan padat," ujarnya.

Selanjutnya adalah transparansi pembelian tiket sesuai kapasitas dispensasi yang diberikan kepada PT Pelni artinya tidak ada lagi tiket dijual setelah kapasitas kapal sudah terpenuhi, menguatkan pembelian tiket secara online oleh masyarakat dan tidak ada pembelian tiket melalui petugas loket dan sterilisasi terminal penumpang memastikan hanya penumpang dengan memiliki tiket yg berlaku bisa masuk ke area boarding.

"Dalam hal  jumlah kapal PT Pelni tidak memadai utk mengangkut permintaan penumpang, maka penumpang yang sudah membeli tiket Pelni harus bersedia dialihkan ke kapal Perintis dan kapal cadangan lainnya yang disediakan oleh Kementerian Perhubungan," kata Wisnu.

Sekali lagi, kenyamanan dan ketertiban di angkutan laut dapat tercipta dan terwujud, tentunya harus didukung oleh sinergitas antara  regulator, operator pelayaran, operator Pelabuhan dan pengguna jasa sehingga pelayanan angkutan laut akan menjadi lebih baik.

"Kalau penumpang pesawat di bandara bisa, penumpang kereta api di stasiun bisa maka bukan tidak mungkin penumpang kapal di pelabuhan juga bisa tertib," ujar Wisnu.

Sebagai informasi, laporan Posko Pusat Perhubungan Laut Angkutan Lebaran Tahun 2019, Senin (3/6) Pukul 01.00 WIB menyebutkan total Penumpang sampai dengan H-2 sebesar 738.857 orang dengan 5 (lima) pelabuhan yang jumlah penumpangnya tertinggi yaitu Batam sebanyak 104.676 orang, Tg Balai Karimun (77.735), Tg Pinang (44.860), Ternate (40.123) dan Balikpapan (35.221).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement