Selasa 12 Mar 2019 22:25 WIB

Wakil Ketua MPR: Indonesia Krisis Figur Panutan

Mahyudin menilai Indonesia krisis figur tokoh yang bisa bangkitkan nasionalisme.

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Bayu Hermawan
Wakil Ketua MPR Mahyudin  menyampaikan materi sosialisasi 4 pilar MPR RI di Kecamatan Waru, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Senin (11/3).
Foto: dok. Humas MPR
Wakil Ketua MPR Mahyudin menyampaikan materi sosialisasi 4 pilar MPR RI di Kecamatan Waru, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Senin (11/3).

REPUBLIKA.CO.ID, PASER -- Wakil Ketua MPR Mahyudin menyampaikan materi sosialisasi 4 pilar MPR RI di depan forum Ketua RT di Kecamatan Tanah Grogot, Paser, Kalimantan Timur. Mahyudin menilai bangsa Indonesia saat ini tengah mengalami krisis figur nasional yang bisa dijadikan panutan seperti sosok pendiri bangsa Soekarno yang bisa membangkitkan semangat nasionalisme rakyat.

"Orang tua sampai meneteskan air mata kalau mendengar Bung Karno pidato untuk membakar jiwa bangsa Indonesia, membangun nasionalisme, kita tidak ada lagi tokoh semacam itu," kata Mahyudin, Selasa (12/3).

Menurutnya banyak tokoh-tokoh nasional yang ada saat ini justru tidak memberi contoh dan tuntunan kepada masyarakat. Ia menilai masyarakat saat ini butuh panutan dan tuntutan dari para tokoh nasional. "Hari ini kita tidak memiliki lagi figur yang menjadi tuntutan kita berbangsa dan bernegara. Pejabat publik kita menjadi maling di seluruh republik Indonesia, ini masalah kita. Inilah tantangan 4 pilar," ujarnya.

Mahyudin mengaku merindukan adanya sosok seperti Soekarno. Menurutnya saat ini tidak ada lagi yang berbicara mengenai gotong royong. Justru yang ada saat ini adalah kekuatan individual yang semakin tinggi. 

"Iri dengki terbangun kuat. Kita tidak segan lagi mencaci maki orang bersembunyi dibalik namanya teknologi. Memaki orang lewat Twitter, WhatsApp, Instagram, Facebook," jelasnya.

Oleh karena itu ia menilai perlunya sosialisasi 4 pilar untuk mengembalikan jati diri bangsa. Selain itu ia pun juga mengimbau kepada masyarakat untuk cermat dalam memilih pemimpin. Jangan sampai pejabat yang dipilih nantinya adalah pejabat maling.  "Kalau pejabatnya korup bisa dicurigain dari rakyat yang korup," ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement