Senin 11 Mar 2019 23:40 WIB

Kesaksian Guru Ngaji Soal Keislaman Jokowi

Jokowi dikenal sebagai sosok yang islami dan apa adanya.

Presiden Joko Widodo berdoa usai menunaikan shalat sunnah tahiyatul masjid di Masjid Niujie, Beijing, Minggu (14/5).
Foto: ANTARA FOTO
Presiden Joko Widodo berdoa usai menunaikan shalat sunnah tahiyatul masjid di Masjid Niujie, Beijing, Minggu (14/5).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA—  Pengasuh Pesantren Al-Qur'aniyy Azzayadiyy KH Abdul Karim Ahmad yang merupakan guru mengaji Presiden Joko Widodo mengingatkan masyarakat agar mendengarkan ulama yang tidak memiliki kepentingan selama tahun politik ini.

"Pilih ulama yang ucapannya sesuai perbuatan, tidak ada kepentingan sama sekali. Ulama yang ikhlas tidak ada kepentingan duniawi," ujar KH Abdul Karim Ahmad yang akrab disapa Gus Karim, dalam keterangan persnya kepada Antara di Jakarta, Senin (11/3) .

Baca Juga

Menurut Gus Karim, meski terdapat ulama yang memiliki tendensi mengarahkan dukungan kepada salah satu kubu, ulama yang ikhlas tanpa kepentingan masih banyak.

"Ikutilah ulama yang tidak punya kepentingan agar Indonesia tetap utuh," ujar dia lagi.

Terkait isu Jokowi PKI dan tidak beragama, Gus Karim yang mengaku mengenal Jokowi sejak sebelum menjabat sebagai wali kota Solo menampik hal tersebut dan memastikan sisi keislamanan Jokowi tidak perlu diragukan.

Kepada pihak-pihak yang mengembuskan isu tersebut di kampung-kampung di Solo, Gus Karim memberikan tantangan untuk memberikan bukti atas tuduhan itu, tetapi tidak pernah ada yang berhasil memberi bukti.

Selama menjadi wali kota Solo, Jokowi mengeluarkan kebijakan yang memihak umat Islam, seperti karnaval batik dimulai dengan bershalawat keliling.

Menurut Gus Karim, pembelaannya terhadap Jokowi bukan karena kepentingan calon presiden petahana itu mau pun dirinya, melainkan sekadar membela orang yang baik dan bekerja dengan ikhlas.

Ia meminta berbagai pihak tidak lagi menyebarkan isu-isu tidak benar dan berita bohong tentang keislaman Jokowi. 

 

 

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement