Kamis 07 Feb 2019 18:59 WIB

Kasus DBD dan Populasi Aedes Aegypti di Yogya Naik

Hingga akhir Januari, sudah ada 35 kasus DBD di Kota Yogyakarta.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Fernan Rahadi
Pasien demam berdarah dengue (ilustrasi)
Foto: Republika/Prayogi
Pasien demam berdarah dengue (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) sepanjang awal tahun. Hingga akhir Januari saja, sudah ada 35 kasus DBD di Kota Yogyakarta.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Fita Yulia mengatakan, angka itu  menandakan ada peningkatan kasus dibanding tahun lalu pada periode yang sama. Namun, tidak dijumpai fatalitas, penderita yang meninggal dunia.

"Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan dibanding periode yang sama pada 2018, yaitu tujuh kasus," kata Fita, Kamis (7/2).

Fita berpendapat, peningkatan kasus itu disebut sesuai pola kenaikan kasus DBD. Dinas Kesehatan mencatat, puncak kasus DBD di Kota Yogyakarta terjadi pada 2016 dengan jumlah kasus 1.705 kasus.

Terjadi penurunan pada tahun-tahun berikutnya, yakni 414 kasus pada 2017 dan 113 kasus pada 2018. Indikasi peningkatan kasus pada awal tahun ini memberikan peringatan kepada semua pemangku kebijakan meningkatkan kewaspadaan.

Selain peningkatan jumlah kasus DBD, World Mosquito Program (WPM) Yogyakarta melakukan pemantauan nyamuk di Kota Yogyakarta. Pada awal musim hujan ini, ada peningkatan yang sangat nyata dari populsi Aedes aegypti.

Populasinya disebut jauh lebih tinggi pada bulan yang sama saat 2017 dan 2018. Tapi, hampir sama dengan data yang didapat pada 2016 saat terjadi puncak kasus DBD di Kota Yogyakarta.

Terkait itu, Dinas Kesehatan mengaku telah mengeluarkan Surat Edaran terkait kewaspadaan terhadap DBD. Surat itu mencakup imbauan untuk tetap menggalakkan pemberantasan sarang nyamuk.

"Hal itu dapat dilakukan dengan menguras, menutup, memanfaatkan kembali barang bekas, memanjat dan membersihkan talang air atau 4M," ujar Fita.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi menuturkan, jika dikategorikan dari umur memang mereka yang terkena DBD didominasi usia 7-12 tahun. Artinya, hampir 60 persen kasus di Kota Yogyakarta dialami anak-anak.

Jika dikategorikan dengan gender, angkanya hampir sama, yaitu 57 persen laki-laki dan 43 persen perempuan. Meski begitu, ia menekankan, fakta dominasi anak-anak itu tidak dipahami secara salah.

"Kalau dilihat angkanya semua usia terkena, dari umur kurang satu tahun sampai di atas 25 tahun terkena semua," kata Heroe.

Untuk itu, ia mengingatkan, pemberantasan sarang nyamuk merupakan langkah yang efektif untuk memutus rantai perkembangan nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus dengue, dan penyebab DBD.

Heroe mendukung Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta yang menggalakkan gerakan Satu Rumah Satu Jumantik, Sambang Kampung, atau aktivitas gerakan pemberantasan lain yang melibatkan berbagai pihak lintas sektoral.

"Agar elbih efektif, idealnya pemberantasan sarang nyamuk dilakukan terus menerus sepanjang tahun dan secara serentak," ujar Heroe.

Selain itu, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta telah pula menggandeng WMP Yogyakarta. Mereka mengimbau agar masyarakat yang mengalami demam untuk segera mengakses fasilitas kesehatan terdekat.

Peneliti Utama WMP Adi Utarini mengungkapkan, umumnya fatalitas terjadi karena kurang waspada dan terlambat ditangani. Padahal, puskesmas-puskesmas di Yogyakarta telah menyediakan perangkat tes untuk diagnosis dini.

Ia menjelaskan, saat ini WMP tengah menjalankan studi Aplikasi Wolbachia dalam Eliminasi Dengue (AWED). Studi itu sudah berlangsung sejak 2016, bertujuan melihat tingkat keberhasilan teknologi wolbachia mencegah penularan DBD.

Penyebaran Wolbachia sendiri sudah selesai dilakukan pada 2017. Berdasarkan pemantauan, hingga kini persentase Aedes aegypti mengandung wolbachia stabil cukup tinggi.

Selanjutnya, WMP dan Dinas Kesehatan akan melakukan perekrutan pasien demam yang berobat di 18 puskesmas-puskesmas pembantu di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Telah disediakan pula perawat di puskesmas-puskemas tersebut.

Mereka bertugas mendata pasien demam yang bersedia berpartisipasi menjadi responden dalam penelitian. Selain didata identitas, responden yang memenuhi kriteria akan diambil sampel darahnya untuk dianalisis di laboratorium.

"Berharap hasil studi dapat diketahui pada 2020, tapi setiap perkembangan dalam studi ini senantiasa kami sampaikan ke Dinas Kesehatan, kami akan bandingkan kasus DBD di wilayah pelepasan wolbachia dan wilayah pembanding," kata Uut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement