Jumat 18 Jan 2019 14:14 WIB

Kota Bandung Bentuk Tim Khusus Layani Difabel

Kota Bandung membentuk Tim Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat.

Rep: Zuli Istiqomah/ Red: Gita Amanda
Difabel tuna daksa mengendarai sepeda motor saat acara sosialisasi dan pembuatan SIM D di Halaman Wyata Guna, Jalan Padjajaran, Kota Bandung, Kamis (25/5).
Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Difabel tuna daksa mengendarai sepeda motor saat acara sosialisasi dan pembuatan SIM D di Halaman Wyata Guna, Jalan Padjajaran, Kota Bandung, Kamis (25/5).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pemerintah Kota Bandung membentuk Tim Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM) bagi penyandang disabilitas. Tim ini khusus untuk melayani difabel dari berbagai aspek.

Wali Kota Bandung, Oded M. Danial memastikan Pemerintah Kota Bandung memberikan akses yang luas bagi kaum difabel untuk memperoleh haknya. Mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga lapangan kerja. 

Oded mengatakan, RBM dibentuk sebagai wujud komitmen pemerintah memberikan akses seluas-luasnya kepada para difabel terhadap seluruh kebutuhannya. Mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga lapangan kerja. Di sinilah peran pemerintah melindungi dan memfasilitasi para difabel untuk terus berkarya.

"RBM menjadi wujud keberpihakan pemerintah terhadap penyandang disabilitas. Yang pasti, Komitmen kita tidak boleh luntur di tengah keterbatasan dana dan SDM," kata Oded dalam siaran persnya.

RBM merupakan organisasi berbasis masyarakat yang akan menjadi fasilitator bagi difabel di Kota Bandung. Organisasi ini dipimpin langsung oleh Istri Wali Kota Bandung, Siti Muntamah Danial.

Oded menegaskan, perlindungan terhadap para difabel tidak hanya tanggung jawab pemerintah tetapi juga masyarakat. Oleh karena itu, RBM melibatkan berbagai unsur masyarakat, terutama komunitas peduli difabel.

"Kita optimistis bisa tetap menyediakan fasilitas penunjang bagi disabilitas sehingga kota inklusi tetap terwujud dengan sebenar-benarnya," ujar ayah dari tujuh orang putri itu.

Sementara itu, Ketua RBM Kota Bandung, Siti Muntamah Danial juga mengungkapkan hal serupa. Menurut Umi, panggilan akrabnya, kaum difabel harus dipandang sebagai manusia yang memiliki kemampuan untuk berdaya meskipun dengan cara-cara yang berbeda. Oleh sebab itu, RBM hadir untuk membukakan jalan agar mereka menemukan potensi. Harapannya, para difabel bisa hidup mandiri di masyarakat.

"Insyaallah kita bisa konsolidasikan semua kader RBM. Kita meningkatkan skill mereka kemudian memberikan advokasi-advokasi kebutuhan disabilitas dengan berbagai macam varian. Mulai dari disabilitas yang terganggu mental sampai ke fisik," kata Umi.

Selain itu, RBM juga memberikan edukasi kepada keluarga yang memiliki anggota keluarga difabel agar mampu memberikan ruang berkembang yang baik. Edukasi ini melibatkan para pakar yang ahli di bidangnya.

"Kita juga akan mengedukasi keluarga supaya ramah terhadap penyandang difabel. Keluarga disabilitas ini harus mandiri dan mampu mengantarkan penyandang disabilitas ini berkiprah di dunia usaha atau untuk bekerja di instansi yang menerima disabilitas," katanya.

Tak hanya itu, RBM juga mengadvokasi perusahaan-perusahaan swasta agar memberikan perhatian dan peluang bagi para difabel untuk bekerja. "Untuk itulah di dalam kepengurusan ini kita mengajak pihak ketiga, ada Disnaker (Dinas Tenaga Kerja), perhotelan, dan sebagainya. Kita hadirkan supaya mereka juga memikirkan bahwa difabel itu adalah sama. Kita hadirkan nondiskriminatif kepada warga Kota Bandung," ujar Umi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement