Selasa 25 Sep 2018 16:37 WIB

Lombok Utara Kampanyekan Gerakan Kembali ke Rumah

Pengungsi yang tinggal di tenda rentan terkena penyakit.

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Ani Nursalikah
Warga korban gempa mengangkat air di Posko Pengungsian Dusun Lendang Re, Desa Lembah Sari, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, NTB, Kamis (6/9).
Foto: Antara/Ahmad Subaidi
Warga korban gempa mengangkat air di Posko Pengungsian Dusun Lendang Re, Desa Lembah Sari, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, NTB, Kamis (6/9).

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Warga terdampak gempa di Lombok Utara dihantui kekhawatiran akan datangnya musim hujan. Kekhawatiran ini cukup beralasan mengingat warga terdampak gempa masih tinggal di tenda pengungsian beratapkan terpal dan rentan dari ancaman penyakit.

Sembari menunggu dana bantuan dari pemerintah pusat untuk pembangunan rumah, Pemkab Lombok Utara mengampanyekan "Gerakan Kembali ke Rumah".

"Lombok Utara memang belum hujan, tapi kami sudah ada sebuah gerakan, yakni Gerakan Membali ke Rumah," ujar Najmul di Kantor Pemprov NTB, Selasa (25/9).

Najmul mengajak masyarakat kembali ke rumah, mengambil puing-puing bangunan yang masih bisa dimanfaatkan untuk digunakan membangun hunian sementara (huntara). "Warga kami ajak pulang ke rumah, mencari dan mengambil bahan yang masih bisa digunakan bangun huntara, nanti pemerintah akan membantu triplek," ujarnya. 

Ia bersyukur cukup banyak relawan dan lembaga kemanusiaan yang hadir dan memberikan bantuan kepada warga terdampak gempa dalam bentuk pembangunan huntara. Najmul mengatakan kehadiran huntara merupakan solusi terbaik baik warga terdampak gempa dalam menghadapi musim penghujan sembari menunggu bantuan pembangunan rumah tetap dari pemerintah pusat. 

"Antisipasi kita ya buat huntara sebanyak-banyaknya. Memang angkanya belum sampai 10 ribu (huntara) tapi terus kita lakukan," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement