REPUBLIKA.CO.ID, PROBOLINGGO -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy menelusuri maksud dan tujuan pawai budaya anak-anak TK Kartika V yang kontroversial. Pawai itu dinilai kontroversial karena menggunakan baju hitam dan cadar serta membawa replika senjata. Pawai itu viral di media sosial.
Mendikbud pun datang ke Kota Probolinggo, Jawa Timur, Ahad (19/8) petang. "Setelah saya turun langsung dan mengecek di lapangan, sebenarnya karnaval anak-anak TK itu tidak ada yang luar biasa," katanya.
Hanya saja video yang viral fokus pada pasukan yang anak-anak memakai cadar dengan membawa senjata. "Namun kalau dilihat secara utuh karnaval itu seperti karnaval biasa," kata Muhajir menambahkan.
Baca juga, Polisi Periksa Sekolah Anak TK Pawai Bawa Replika Senjata.
Menurut dia, pawai budaya yang digelar TK tersebut memiliki tema perjuangan umat Islam dalam kemerdekaan Indonesia yang digambarkan dengan bendera Merah Putih, Ka'bah dan diikuti pasukan anak-anak. Mereka menggunakan cadar dengan membawa replika senjata yang dinilai kontroversial itu.
Berdasarkan dari penjelasan pihak sekolah, properti yang digunakan anak-anak dalam karnaval itu merupakan stok lama yang dimiliki pihak sekolah. Tidak ada niat dari pihak sekolah untuk memberikan arahan kepada anak-anak didiknya ke ajaran radikalisme yang berbahaya. "Itu hanya kebetulan saja dan tidak terpikir dampaknya seperti ini," tuturnya.
Ia menjelaskan pihak Kemendikbud perlu meluruskan informasi beredar terkait pawai budaya anak-anak TK di Kota Probolingo yang sempat viral di media sosial. Tidak benar adanya ajaran radikalisme di TK setempat.
Pawai TK Probolinggo
Penggunaan properti itu untuk menghemat biaya pengeluaran wali murid Kendati demikian, kasus tersebut dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak sekolah dan guru juga harus cermat dalam mendidik siswanya.
"Kalau memang belum waktunya dikenalkan properti itu, sebaiknya dipertimbangkan masak-masak lebih dulu," katanya.
Muhajir mengimbau semua pihak di kalangan pendidikan tetap harus mewaspadai adanya ajaran radikalisme di sekolah-sekolah karena biasanya hal tersebut tidak datang dari luar sekolah, namun dari dalam. Sehingga harus diwaspadai adanya bibit-bibit ajaran berbahaya itu.
Sebelumnya pawai budaya salah satu TK di Kota Probolinggo sempat viral di media sosial karena menggunakan baju hitam dengan menggunakan cadar serta membawa replika senjata. Polres Probolinggo Kota mengundang pihak terkait untuk konferensi pers mengklarifikasi kejadian tersebut.
Dalam klarifikasi tersebut, hadir Kapolres Probolinggo Kota AKBP Alfian Nurrizal, Dandim 0820 Probolinggo Letkol Kav. Depri Rio Saransi, Kepala Dinas Pendidikan Kota Probolinggo Moch. Maskur, Ketua Panitia Pawai Budaya Supini dan Kepala Sekolah TK Kartika V Probolinggo Hartatik.
Pawai Budaya dengan tema Bhineka Tunggal Ika tingkat TK se-Kota Probolinggo oleh Diknas Kota Probolinggo dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-73 RI dilaksanakan pada Sabtu (18/8) di Kota Probolinggo.
Pesertanya 158 anak yang merupakan kegiatan rutin setiap tahun dan dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Probolinggo dengan Tema Pawai Budaya Bineka Tunggal Ika.
Kepala TK Kartika V Probolinggo Hartatik mengatakan tema karnaval, yakni "Bersama Perjuangan Rasulullah untuk meningkatkan Iman dan Taqwa kepada Allah SWT".
"Kami tidak ada niat apa-apa, apalagi menanamkan jiwa kekerasan. Semua hanya niat pawai dengan memanfaatkan properti yang ada sehingga lebih hemat. Atas kejadian itu, saya meminta maaf kepada masyarakat. Kami berjanji untuk tidak mengulangi hal yang sama," katanya