Jumat 08 Jun 2018 20:26 WIB

Wanadri Usulkan Kepanduan Dihidupkan untuk Cegah Radikalisme

Gerakan kepanduan dinilai efektif menumbuhkan nasionalisme.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
Wanadri dalam salah satu ekspedisi pendakian
Foto: dok: Wanadri
Wanadri dalam salah satu ekspedisi pendakian

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Ketua Umum Wanadri Andi Angga Kusuma menuturkan maraknya infiltrasi radikalisme yang mengancam integrasi bangsa harus disikapi serius oleh seluruh elemen. Selain butuh upaya proaktif pemerintah dalam mencegah dan memberantas, diperlukan peran aktif pemuda demi menangkal radikalisme.

Terlebih, radikalisme ini diketahui telah menyusup hingga level kampus dan sivitas akademika lainnya. Menurut Angga, program pendidikan karakter bangsa dengan penekanan nilai-nilai Pancasila harus kembali digalakkan.

"Dulu kita mengenal konsep pendidikan kepanduan yang menitikberatkan pada pendidikan karakter menggunakan media alam, demi meningkatkan semangat dan jiwa nasionalisme anak muda. Jadi tidak ada salahnya kita mulai galakkan kembali," ujar Angga dalam keterangan persnya, Jumat (8/6).

Angga menerangkan, gerakan kepanduan sendiri pernah memperoleh perhatian khusus pemerintah pada periode awal kemerdekaan Indonesia lantaran dinilai efektif menumbuhkan jiwa nasionalisme di kalangan anak muda. Selain itu, gerakan kepanduan juga terbukti mampu membangun karakter pada diri pemuda-pemudi Indonesia.

Namun, lantaran dalam perkembangannya program kepanduan banyak diadopsi oleh sejumlah kelompok dan golongan demi melanggengkan kepentingannya. Melalui Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960 tentang rencana pembangunan Nasional Semesta Berencana, Presiden Indonesia pertama, Soekarno, membubarkan gerakan kepanduan tersebut.

"Di mana pascapembubaran gerakan Kepanduan, lahirlah gerakan Pramuka dan Wanadri yang menginisiasi organisasi-organisasi kepemudaan dan penggiat alam hingga saat ini," paparnya.

Tapi Angga mengakui, harus pintar-pintar meramu kurikulumnya dan jangan sampai pendidikan karakter untuk menjadi seorang nasionalis dan pancasilais malah membentuk ultranasionalisme di kalangan anak muda. Alasannya, karena Indonesia negara non-blok yang juga menghargai paham negara lain dan hidup dalam kancah masyarakat dunia.

Karena itulah, Angga pun meminta pemerintah kembali menggalakan program-program pendidikan karakter bangsa demi mengentaskan ancaman radikalisme dan menyempurnakan program bela negara yang sedang berjalan. Apalagi Presiden Jokowi dan beberapa pejabat pernah aktif di organisasi pecinta alam kampus.

"Jadi saya pikir mereka paham betul mengenai arti pentingnya pendidikan seperti kepanduan dengan menggunakan media alam," tuturnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement