Sabtu 02 Jun 2018 00:33 WIB

HNW: Keluarga Berperan Cegah Radikalisme

HNW mengingatkan bahwa agama apa pun pasti tidak ada yang mengajarkan terorisme

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid.
Foto: Humas MPR RI
Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid mengatakan bahwa keluarga dapat berperan untuk mencegah serta menangkal radikalisme. Sehingga penting untuk memperkuat ketahanan keluarga terkait hal tersebut.

"Keluarga yang harmonis yang sakinah mawadah wa rahmah tidak akan merusak," kata Hidayat Nur Wahid dalam diskusi, Jumat (1/6).

Menurut Hidayat, keluarga dengan sifat seperti itu akan menghadirkan sikap saling menyayangi, peduli, dan empati serta saling mengajak komunikasi. Untuk itu, ujar dia, perlu diupayakan secara maksimal untuk meperkuat keberagamaan dan ketahanan keluarga sebagai solusi dari mencegah aksi terorisme.

Ia mengingatkan bahwa agama apapun pasti tidak ada yang mengajarkan terorisme. Agama, lanjutnya, seringkali menjadi korban pertama dari sebuah terorisme. "Relasi keluarga kurang harmonis dan keluarga pula yang akan menjadi tertuduh dari terorisme. Keluarga yang rapuh bisa terdampak terorisme," paparnya.

Wakil Ketua MPR RI ini juga mengutarakan harapannya agar hasil revisi UU Antiterorisme mengakomodasi ketahanan keluarga untuk pencegahan radikalisme. Di tempat terpisah, Anggota Komisi III DPR Ahmad Sahroni mengatakan Hari Kelahiran Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni menjadi pengingat akan pentingnya persatuan dan menghargai kebhinekaan.

Dengan demikian diharapkan Hari Kelahiran Pancasila dijadikan momentum untuk mengikis gerakan radikalisme, termasuk terorisme. "Terkait Hari Kelahiran Pancasila, saat ini saya pribadi menganggap yang sedang marak sekarang tentang radikalisme mungkin sudah keluar dari ranah semestinya. Padahal dasar kita bernegara dari Pancasila dan UUD 1945," kata Sahroni, di Jakarta, Jumat (1/6).

Kehidupan adalah anugerah berharga dari Allah SWT. Segera ajak bicara kerabat, teman-teman, ustaz/ustazah, pendeta, atau pemuka agama lainnya untuk menenangkan diri jika Anda memiliki gagasan bunuh diri. Konsultasi kesehatan jiwa bisa diakses di hotline 119 extension 8 yang disediakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes juga bisa dihubungi pada 021-500-454. BPJS Kesehatan juga membiayai penuh konsultasi dan perawatan kejiwaan di faskes penyedia layanan
sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement