Jumat 22 Sep 2017 18:48 WIB

Dilema Golkar di Pilkada Jabar 2018

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Bilal Ramadhan
Pilkada Serentak (Ilustrasi)
Foto: Republika/Yogi Ardhi
Pilkada Serentak (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Idrus Marham mengakui nama Ridwan Kamil menempati posisi tertinggi dibandingkan pesaing lainnnya yakni Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi dalam sejumlah survei untuk Pilkada Gubenur Jawa Barat 2018.

Idrus mengatakan, tentu Partai Golkar tidak menutup mata untuk mengejar kemenangan dalam Pilkada Jabar, sehingga ingin mencalonkan kandidat yang memang berpotensi menang.

"Tiga besar ini ya memang Pak RK yang masih tertinggi, itu sebuah realita, saya kira siapapun mengatakan dia tertinggi dari Deddy Mizwar, Dedi Mulyadi. Ini tentu akan kita lihat ya karena Partai Golkar di dalam pertimbangannya sekali lagi karena kita ingin menang," ujar Idrus di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta pada Jumat (22/9).

Namun Idrus mengatakan, sebagaimana beberapa kali pernyataan sebelumnya, Partai Golkar dalam menentukan pasangan calon yang diusung pada setiap Pilkada telah diatur ingin tetap mengedepankan kader Partai Golkar.

"Apalagi kalau itu pengurus, namun ini tentu akan kita lihat ya karena Partai Golkar di dalam pertimbangannya, sekali lagi karena kita ingin menang, maka kita akan mencoba mengkombinasikan antara elektabilitas dan mengedepankan kader. itu nanti pasti ujung-ujungnya ke sana. pasti seperti itu," ujar Idrus memastikan.

Namun Idrus mengakui partainya memang pernah mensimulasikan sejumlah pasangan calon untuk dicalonkan Partai Golkar pada Pilkada Jawa Barat. Khususnya setelah kandidat seperti Ridwan Kamil menempati posisi pertama, disusul Deddy Mizwar, kemudian Dedi Mulyadi.

Ia menyebutkan, simulasi pertama diantaranya pernah memasangkan Ridwan Kamil dengan Dedi Mulyadi, kemudian Dedi Mulyadi dengan tokoh partai lain. "Tapi rupanya opsi ini nggak sampai pada sebuah kesepakatan," ujarnya.

Tak hanya itu, Idrus memaparkan muncul juga simulasi lain yang suratnya kini menjadi viral yakni antara Ridwan Kamil dengan kader Partai Golkar Daniel Muttaqien. "Muncul simulasi lain gimana misalkan RK dengan Daniel mutaqin, ini simulasi-simulasi yang ada tetapi sampai pada sampai kesimpulan bahwa dari seluruh opsi-opsi yang ada kita tentu nanti kita akan melakukan pilihan," ujarnya.

Namun pilihan terhadap simulasi-simulasi tersebut juga harus terlebih dahulu dilakukan melalui suatu rapat dengan tim Pilkada pusat yang juga melibatkan konsultasi dengan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto.

"Karna dari simulasi-simulasi yang ada sebelumnya, itu perlu rapat dan konsultasi dengan Ketum Partai Golkar. Nah kita belum sempat konsultasikan tapi tiba-tiba Ketum sakit," ujar Idrus.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement