Rabu 05 Jul 2017 19:05 WIB

15 Persen Pasien TB di DIY Resistan Obat

Rep: Neni Ridarineni/ Red: Yudha Manggala P Putra
Ilustrasi Tuberkulosis.
Foto: Reuters
Ilustrasi Tuberkulosis.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Resistansi (kebal) terhadap obat Tuberkulosis (TB) diklaim sebagai salah satu penyebab masih tingginya kasus TB di DIY. Hal itu disampaikan Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Munawar Gani usai bertemu dengan Wakil Gubernur DIY Paku Alam X di Kepatihan Yogyakarta, Rabu (5/7).

Sementara itu, spesialis penyakit paru RSUP Dr Sardjito Yosrizal mengatakan, data pada 2014, kasus resisten terhadap obat TB di DIY mencapai sekitar 14 persen. Kasus tersebut meningkat terus. Untuk itu harus ada penemuan kasus TB. '

'Kalau sebenarnya ada kasus TB, tetapi tidak ditemukan hal ini menjadi sumber penularan TB di masyarakat,'' tuturnya.

Selanjutnya Yosrizal yang juga mantan Ketua PDPI Cabang Yogyakarta mengungkapkan kasus TB di DIY yang dicurigai sebanyak 6269 kasus. Tetapi yang bisa terbukti terkena paru hanya 2977 kasus atau sekitar 30 persen, sedangkan yang resisten terhadap obat TB mencapai 15 persen.

Padahal, kata Gani menambahkan, untuk pengobatan bagi pasien yang resisten terhadap obat paru baru ada satu rumah sakit yakni RSUP Dr Sardjito. Karena untuk pengobatannya harus tepat, kalau tidak dalam pengobatan TB paru yang resisten, bisa menciptakan kekebalan baru.

Padahal untuk pengobatan pasien yang resisten terhadap obat TB biayanya tinggi dan pengobatannya lama. ''Sehingga butuh keseriusan. Apabila terjadi kegagalan dalam pengobatan terhadap pasien yang resisten terhadap obat TB akan menciptakan permasalahan baru,'' ungkapnya.

Yosrizal mengatakan kasus TB di Indonesia terbanyak kedua di dunia. Kematian akibat TB menduduki ranking pertama untuk penyakit infeksi di Indonesia. Agar tidak resistensi terhadap obat TB maka pasien harus benar-benar diberikan motivasi agar melakukan pengobatan TB sampai sembuh.

Untuk itu Dokter Spesialis Paru melakukan tindakan “tempo” untuk mencegah terjadinya semakin banyaknya kasus TB di Indonesia. Tempo adalah melakukan tindakan dengan temukan kasus TB, dipisahkan dengan orang lain serta dilayani dan diobati sampai sembuh.  Untuk pencegahannya adalah dibiasakan untuk berperilaku hidup bersih dan bila batuk ditutupi dan tidak meludah sembarangan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement