Senin 17 Apr 2017 14:57 WIB
Pilkada DKI

'Klaim Gagasan Bagus, Ujung-ujungnya Money Politic Dibungkus Sembako'

Rep: Singgih Wiryono/ Red: Bilal Ramadhan
Warga mengantre dalam acara sembako murah yang digelar di Jalan Ngurah Rai, Kp. Sumur, Klender, Jakarta Timur, Jumat (14/4).
Foto: Republika/Febrianto Adi Saputro
Warga mengantre dalam acara sembako murah yang digelar di Jalan Ngurah Rai, Kp. Sumur, Klender, Jakarta Timur, Jumat (14/4).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pembagian sembako untuk meraup suara di Pilkada DKI Jakarta 2017 putaran final, apalagi memasuki hari tenang, sangat mencederai demokrasi, bahkan melahirkan budaya negatif dengan membodohi masyarakat.

Juru Kampanye pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Anies Sandi sekaligus Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta, Abdurrahman Suhaimi mengatakan, partai politik wajib mengajarkan kepada masyarakat etika dan budaya berpolitik yang benar, bukan dengan politik sogokan.

"Pilkada ini adu gagasan dan program. Jangan mengklaim gagasannya bagus, ternyata ujung-ujungnya money politic dibungkus sembako murah di hari tenang," kata Suhaimi dalam rilisnya, Senin (17/4).

Untuk itu, kata dia, PKS dan partai politik lainnya, serta relawan pendukung paslon nomor 3, mengajak seluruh warga DKI Jakarta dan masyarakat Indonesia pada umumnya untuk mencermati dan memantau pelaksanaannya putaran final tgl 19 April 2017 mendatang.

"Agar DKI sebagai ibukota menjadi contoh yang baik bagi daerah lainnya," katanya.

Suhaimi juga meminta, kepada KPUD DKI Jakarta sebagai penyelenggara, Bawaslu DKI Jakarta, Penegak Hukum, Aparat Keamanan dan LSM pegiat Demokrasi harus bertindak tegas dan netral dalam mengawal Pilkada DKI Jakarta putaran kedua nanti.

"Semoga Pilkada DKI 2017 ini dapat terlaksana dengan baik aman, jujur, adil dan tidak mengintimidasi warga, serta menghasilkan pemimpin DKI Jakarta yang legitimate," pungkasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement