Jumat 07 Apr 2017 16:07 WIB

Bupati Purwakarta tak Tertarik Piala Adipura

Rep: Ita Nina Winarsih/ Red: Muhammad Hafil
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, meninjau langsung gerbang darurat Tol Cipularang di KM 99+400, Desa Sawit, Kecamatan Darangdan, Senin (9/1).
Foto: Republika/Ita Nina Winarsih
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, meninjau langsung gerbang darurat Tol Cipularang di KM 99+400, Desa Sawit, Kecamatan Darangdan, Senin (9/1).

REPUBLIKA.CO.ID,  PURWAKARTA -- Pemkab Purwakarta tak tertarik dengan penghargaan Adipura. Akan tetapi, wilayah ini menargetkan bahwa setiap desa harus selalu bersih. Bahkan, setiap desa didorong untuk mampu mengelola sampahnya masing-masing. Sehingga, tidak ada lagi sampah yang berserakan atau masyarakat yang membuang sampah sembarangan.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, mengakui, Adipura itu bukan target dari wilayahnya. Justru yang menjadi target itu, setiap penjuru kota dan desa harus bersih dari sampah. Serta, kesadaran masyarakat akan membuang sampah pada tempatnya semakin terdongkrak lagi.

"Bukan ke persoalan Adipuranya, tapi kami ingin Purwakarta ini jadi daerah bersih," ujar Dedi, kepada Republika, Jumat (7/4). 

Karena itu, lanjut Dedi, pihaknya sudah menginstruksikan seluruh kepala desa untuk kreatif dalam mengatasi persoalan sampah. Jangan sampai, seluruh sampah masyarakat dibebankan ke pemkab (instansi terkait). Mengingat, armada dan petugas sampah yang selama ini melayani masyarakat jumlahnya sangat terbatas.

Sehingga, tidak semua desa bisa terlayani. Untuk itu, kedepan pihaknya ingin masing-masing desa memiliki alat untuk mengelola sampah sendiri. Untuk pembelian alatnya, bisa dianggarkan melalui APBD. Tinggal pemerintahan desanya, mengajukan proposal bantuan ke pemkab.

Menurut Dedi, sebenarnya desa mampu mengelola sampah masyarakatnya. Apalagi, di desa itu lahannya luas-luas. Lahan tersebut, bisa untuk mengolah sampah. Baik yang organik maupun nonorganik. Sampah organik, bisa dijadikan kompos. Sedangkan, sampah nonorganik bisa dipilah-pilah lagi, mana yang punya nilai ekonomis mana yang tidak.

"Sampah nonorganik yang tidak punya nilai ekonomis, maka harus dihancurkan dengan mesin. Mesin ini yang akan kita anggarkan dananya," ujar Dedi.   

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement