Selasa 18 Oct 2016 15:35 WIB

Penelitian Bahan Kimia Alam Indonesia Belum Optimal

Rep: Rizma Riyandi/ Red: Winda Destiana Putri
Peneliti di laboratorium penelitian (Ilustrasi)
Foto: Corbis
Peneliti di laboratorium penelitian (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Kekayaan bahan alam pun berpotensi untuk dikembangkan menjadi obat dan bahan-bahan industri. Maka itu, penelitian terhadap bahan kimia alam perlu ditingkatkan.

Rektor Universitas Islam Indonesia, Harsoyo menilai, pendalaman mengenai bahan kimia alam di Indonesia belum optimal. Padahal tumbuh-tumbuhan di negara ini mencapai 25 ribu jenis atau lebih dari 10 persen dari flora dunia. "Lumut dan ganggang diperkirakan jumlahnya 35 ribu jenis," tutur Harsoyo pada Simposium Nasional Kimia Bahan Alam XXIV di Kampus UII, Selasa (18/10).

Ia mengatakan, tidak kurang dari 40 persen tanaman di Indonesia merupakan jenis endemik atau hanya tumbuh di Indonesia. Keunggulan hayati ini sangat penting artinya bagi peningkatan daya saing bangsa. Oleh karena itu, dibutuhkan riset dan kajian yang berkelanjutan untuk menggali manfaat di balik keanekaragaman hayati tersebut.

Harsoyo mengemukakan, kimia bahan alam memiliki peranan penting kehidupan manusia. Bahkan banyak tumbuhan yang dapat menghasilkan senyawa bahan alam potensial. Jika dimanfaatkan dengan baik, bahan-bahan tersebut dapat mendorong kemajuan industri, seperti obat-obatan, farmasi, kosmetik, dan pertanian di tingkat nasional.

Tentunya dukungan yang konsisten dari para ilmuan, peneliti, dan pemerhati di bidang kimia diperlukan untuk menggali manfaat tumbuhan-tumbuhan tersebut. "Diselenggarakannya Simposium Nasional Kimia Bahan Alam XXIV sangat relevan untuk mendorong kolaborasi dan kerjasama di antara peneliti dalam memajukan ilmu kimia bahan alam," tutur Harsoyo.

Panitia Workshop dan Simposium Nasional Kimia Bahan Alam XXIV, Tuti Purwaningsih menjelaskan, dalam agenda yang digelar 17 sampai 19 Oktober ini, para peneliti dan akademisi akan membahas lima topik. Pertama mengenai isolasi, penentuan struktur, sintesis, dan biosintesis senyawa organik bahan alam.

Kedua, sifat dan fungsi biologis senyawa alam meliputi aspek farmakologi dan biokimia. Ketiga, farmakognosi, etnofarmakologi, etnobiologi, dan fitoterapi. Keempat, bioteknologi, termasuk kultur jaringan atau sel dalam produksi senyawa alam, dan rekayasa DNA.

"Kelima tentang pengembangan bahan alam dalam farmasi dan kedokteran meliputi aspek sains, teknologi dan klinis," ujar Tuti. Ia berharap agenda ini dapat menjadi media pertukaran informasi dan memperkuat jalinan kerjasama penelitian antar berbagai pihak.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement