Selasa 12 Jul 2016 17:25 WIB

75 Pendatang di Jakarta Bekerja di Sektor Informal

Rep: Dian Erika Nugraheny/ Red: Karta Raharja Ucu
Pendatang yang baru tiba di salah satu terminal Ibukota Jakarta, Jumat (2/9).
Foto: Republika/Imam Budi Utomo
Pendatang yang baru tiba di salah satu terminal Ibukota Jakarta, Jumat (2/9).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi DKI Jakarta, Priyono, mengatakan hampir 75 persen pendatang di Ibu Kota bekerja di sektor informal. Dinas Tenaga Kerja DKI menyarankan pendatang membekali diri dengan keterampilan khusus sebelum merantau ke Jakarta.

"Pendatang memang lebih banyak bekerja di sektor informal. Bahkan jumlahnya hampir 75 persen. Mereka ini yang datang dari perdesaan atau kota kecil untuk mengadu nasib di Jakarta," ujar Priyono kepada Republika.co.id di Jakarta,  Selasa (12/7).

Para pendatang, kata dia, biasa tiba saat setelah idul fitri atau sepanjang tahun. Fenomena naiknya jumlah pendatang ke Jakarta setelah Idul Fitri diakui Priyono tidak bisa dihindari. Kebanyakan dari para pendatang tersebut akhirnya bekerja sebagai pedagang, tukang bangunan, asisten rumah tangga dan sebagainya.

Menurut Priyono, Jakarta pada prinsipnya terbangun dengan adanya pendatang. Pendatang yang pada akhirnya bekerja di sektor informal juga dinilai tetap memberi kontribusi positif bagi Jakarta.

Namun, pihaknya mengingatkan jika persaingan di Jakarta sangat ketat. Karena itu, keterampilan umum dan khusus harus lebih dulu dimiliki sebelum calon pendatang memutuskan merantau ke Jakarta. Priyono juga menyarankan agar pendatang membekali diri dengan keterampilan kekinian, seperti kemampuan IT atau teknologi lain.

"Sebab kondisi industri di Jakarta kan mengarah kepada perkembangan teknologi. Penguasaan bidang keterampilan yang dapat terus berkembang seperti IT sangat bagus agar pendatang bisa bersaing di Jakarta," ucap Priyono.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement