Kamis 31 Mar 2016 08:52 WIB

Ini Tiga Hal yang Buat Daya Saing SDM Pariwisata Masih Rendah

Seorang pemandu dan wisatawan mancanegara menari disamping patung Sigale-Gale, di Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumut, Sabtu (24/8). Seorang pemandu dan wisatawan mancanegara menari disamping patung Sigale-Gale, di Desa Tomok, Kecamat
Foto: Antara/Irsan Mulyadi
Seorang pemandu dan wisatawan mancanegara menari disamping patung Sigale-Gale, di Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumut, Sabtu (24/8). Seorang pemandu dan wisatawan mancanegara menari disamping patung Sigale-Gale, di Desa Tomok, Kecamat

REPUBLIKA.CO.ID, -- Tingkat daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) pariwisata Indonesia di ASEAN pada tahun 2015 berada di peringkat lima di bawah Singapura, Thailand, Malaysia dan Filipina.

Sedangkan untuk tingkat dunia, Indonesia berada di rangking 53 dari 141 negara. Posisi Indonesia tertinggal jauh dari Singapura dan Filipina yang ada di peringkat tiga dan 42.

Hal ini menjadi tantangan besar bagi pariwisata Indonesia, terlebih dalam menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Ahman Sya, Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan (BPKK) Kementerian Pariwisata mengatakan, ada tiga hal yang membuat daya saing SDM Pariwisata Indonesia masih rendah. Yakni penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, penguasaan Teknologi Informasi dan Manajemen.

"Untuk meningkatkan kualitas SDM pariwisata, tiga hal ini menjadi fokus perhatian," ujar Ahman Sya dalam pernyataanya, Rabu (30/3) kemarin.

Dalam Rapat Kerja Nasional (Rakornas) SMP Pariwisata se-Indonesia yang digelar di Batam, penguatan terhadap tiga hal tersebut menjadi salah satu perhatian utama.

Setiap SMK Pariwisata ujar Ahman Sya akan membangun komitmen bersama untuk dapat berpartisipasi aktif dalam menyukseskan pembangunan pariwisata di Indonesia.

"Melalui rakor ini kita ingin sepakati penerapan dan peningkatan kurikulum berbasis kompetensi supaya lulusanya memiliki daya saing tinggi di ASEAN. Diantaranya adalah penguatan terhadap tiga hal tersebut," ujar Ahman Sya.

Dalam rakor juga diharapkan tercipta komitmen dan kesepakatan langkah dari masing-masing SMK untuk memiliki lembaga sertifikasi profesi (LSP).

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement