REPUBLIKA.CO.ID, BOYOLALI -- Sembilan desa dari 15 desa di Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, dinyatakan sebagai daerah endemis penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue). Hingga memasuki pekan ketujuh 2016 ini, tercatat 22 kasus DBD.
Kepala Puskesmas Banyudono I, Rahayuningtyastuti, Jumat (26/2), menyebutkan, ke-sembilan desa endemis penyakit DBD diantaranya, Desa Sambon, Kuwiran, Jipangan, Dukuh, Banyudono, Ngaru–Aru, Bendan, Batan dan desa Bangak.
Ditengah acara pencanangan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara serentak di Kecamatan Banyudono dipusatkan di Dukuh Sari Mulyo, Desa Sambon, dikatakan, jumlah penderita DBD terus bertambah. Belakangan tercatat 22 kasus tersebar di sembilan desa.
Tingginya pasien penyakit DBD diakibatkan pada Januari dan Februari ini, karena curah hujan tingggi. Sehingga banyak tandon air yang menjadi tempat perkembang biakan nyamuk demam berdarah. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk melakukan gerakan PSN belum optimal.
Pada 2015 lalu, jumlah kasus demam berdarah selama satu tahun hanya 32 kasus. Menurut Rahayu, dari jumlah 22 kasus itu telah mendapatkan perawatan intensif di RSUD Pandanarang Boyolali, RSU Banyudono, dan RSU PKU Muhammadiyah Delanggu, Kabupaten Klaten.
Pasien DBD tersebar di sembilan 9 desa endemis DBD dinyatakan terserang penyakit demam berdarah. Ini berdasarkan hasil pemeriksaan trombosit darah pasien yang semakin hari semakin menurun. Dan, bila tidak segera mendapakan perawatan bisa beresiko pendarahan yang dapat berakibat fatal.