Selasa 05 Jan 2016 06:15 WIB

Indonesia Sebagai Pusat Peradaban Dunia, Mungkinkah Terwujud pada 2016?

Red: M Akbar
Manuskrip Timbuktu, warisan peradaban Islam yang terancam punah (ilustrasi).
Foto: nfvf.co.za
Manuskrip Timbuktu, warisan peradaban Islam yang terancam punah (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Dedy Ibmar (Aktivis HMI Ciputat serta penggiat kajian Pojok Inspirasi Ushuluddin/PIUSH)

Semakin tahun, dunia fana ini akan semakin bising. Pertumbuhan penduduk dan perkembangan industri di dunia nyata, dan terutama banjir suara di dunia maya.

Perkembangan teknologi digital semakin hari semakin meriah. Segala yang fisik didigitalkan. Termasuk, keributan-keributan yang tadinya hanya berada di pojokan, di sudut-sudut peradaban, kini semuanya merangsek ke tengah. Keributan itupun menyeruak dan saling berebut perhatian.

Setelah tahun politik 2014, yang memang khittahnya menjadi tahun panas, 2015 yang tadinya diprediksi (atau diharapkan?) banyak pakar akan sedikit mendingin ternyata semakin penuh keonaran. Tiada hari tanpa isu panas di media sosial.

Tahun 2015 adalah bukti nyata betapa intensitas hingar-bingar di bumi Indonesia akan terus meninggi. Lalu, 2016 dan seterusnya, kemungkinan besar akan lebih tak karuan lagi.

Pada 2016, dapat dipastikan peradaban antarperadaban akan semakin dekat bahkan tanpa sekat sedikitpun. Terlebih lagi, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) juga sudah akan diterapkan Indonesia pada tahun tersebut. Tentunya ini merupakan peluang namun sekaligus juga ancaman bagi peradaban Negri yang sudah tidak muda ini.

 

Sejarah mengatakan bahwa setiap peradaban besar pasti selalu mengalami persentuhan dengan peradaban besar sebelumnya. Yunani kuno bersentuhan dengan Mesopotamia, peradaban Islam di dunia timur bersentuhan dengan Yunani dan Romawi, Reneysance barat pun merupakan turunan langsung dari peradaban Islam klasik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement