Jumat 03 Apr 2015 14:06 WIB

BBM Naik, Sopir Angkutan Menjerit

Rep: Edy Setiyoko/ Red: Erdy Nasrul
  Ratusan sopir, kernet dan pedagang kaki lima sekitar terminal Lebak Bulus, Jakarta, Senin (6/1), melakukan aksi unjuk rasa menolak penutupan terminal.   (Republika/Yasin Habibi)
Ratusan sopir, kernet dan pedagang kaki lima sekitar terminal Lebak Bulus, Jakarta, Senin (6/1), melakukan aksi unjuk rasa menolak penutupan terminal. (Republika/Yasin Habibi)

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Nasib awak angkutan umum selalu apes setiap kebijakan kenaikkan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Sejumlah sopir angkutan umum di Kota Solo, Jateng, mengeluhkan kebijakan pemerintah yang mulai aktif sejak 28 Maret lalu itu.

Setiap ada kenaikkan harga BBM, awak angkutan selalu buntung. ''Kenapa tidak buntung, kenaikkan BBM kali ini tidak dibarengi dengan naiknya tarif angkutan,'' ujar Sukamto (50), seorang sopir, Jum'at (3/4).

Menurut sopir angkutan kota, Soleh (47), meskipun biaya operasional angkutan membengkak, namun dirinya masih tetap menggunakan tarif lama, Rp 2.000 untuk anak sekolah dan Rp 4.000 untuk dewasa.

Dengan menerapkan tarif lama seperti ini, jelas kondisi saat ini sangat menyulitkan sopir angkutan. ''Mau menaikkan tarif sendiri nanti kesalahan. Tapi, kalau tidak dinaikkan tarif, pulang tidak membawa uang. Untuk setoran saja tidak cukup,'' ujar Parmanto (45), sopir yang lain.

Menurut penuturan awak angkutan kota di sini, dalam satu hari biasanya hanya memperoleh Rp 80 ribu – Rp 90 ribu . Ini dalam kondisi normal. Kalau sepi hanya cukup buat setoran. Biasanya, buat setoran Rp 40 ribu perhari dan Rp 30 ribu buat beli bensin. Sisanya, buat makan. Jadi, hasil sopir selama ini cukup mepet. ''Lha sekarang BBM naik, kita bingung untuk menyiasati. Bahkan, selama tiga hari ini kita sempat pulang tidak bawa apa-apa''.

Keluhan sama diutarakan sopir angkutan lain, Wasiman (58). Ia mengaku, jika kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM membuat dirinya harus putar otak. Minimal agar bisa tetap mengoperasionalkan angkutan. Soalnya, dengan harga BBM naik jangankan mikir keuntungan. Uang setoran saja sangat sulit.

Awak angkutan berharap, pemerintah bersedia menurunkan harga BBM lagi. Kalaupun tidak, tolong tarif angkutan juga disesuaikan. Ini agar tidak timpang seperti sekarang. Namun, kalau tarif dinaikkan pasti membebani penumpang. ''Serba sulit,'' kata Wasiman.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement