Selasa 31 Mar 2015 12:46 WIB

Batu Bara Kalteng Rawan Eksploitasi

Rep: Andi Mohammad Ikhbal/ Red: Ilham
Tambang Batu Bara (ilustrasi)
Foto: Republika/Adhi Wicaksono
Tambang Batu Bara (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, PALANGKA RAYA -- Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas mempriotitaskan pengadaan listrik dengan sumber batu bara di Kalimantan Tengah (Kalteng). Dengan begitu kekayaan alam di provinsi tersebut tak dieksploitasi untuk keperluan ekspor.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Andrinof A Chaniago mengatakan, Kalteng tak boleh terus menerus ketergantungan ekspor bahan mentah. Potensi alam di sana harus bermanfaat untuk daya listrik rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Listrik harus surplus dulu. Penuhi kebutuhan rumah tangga. Lalu bangun kawasan industri dan pelabuhan,” kata Andrinof usai hadiri Musyawarah Rencana Pembangunan dan Pengembangan (Musrembang) Provinsi di Kantor Gubernur Kalteng, Palangka Raya, Selasa (31/3)

Hasil batubara di provinsi ini tergolong melimpah. Potensinya sebanyak 1,05 miliar ton dan cadangan terbukti 40 juta ton. Namun, Andrinof menyayangkan hasil tambanganya belum optimal. Sebab, batubara dengan kalori tinggi yang ramah lingkungan justru tak dimanfaatkan.

“Itu memang butuh teknologi khusus. Jadi sampai sekarang batu bara jenis tersebut malah untuk keperluan listrik negara lain,” ujar dia.

Ia menargetkan Kalteng memiliki infrastruktur listrik berkapasitas 1000 megawatt. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dapat terealisasi bila perusahaan penambang dengan produksi minimal 20 juta ton per tahun membangun pembangkit 200 megawatt.

“Kalau ada 5 saja perusahaan tambang seperti itu, maka target 1000 megawatt untuk Kalteng segera tercapai. Setelah tenaga listrik, baru sediakan sarana penunjang seperti kereta api sebagai transportasi angkutan barang ke pelabuhan,” kata Andrinof.

Bappenas mengkhawatirkan proyek pembangunan kereta api ini justru akan mengeruk sumber daya lokal. Dalam dokumen MPE3I, pembangunan kereta api akan mepercepat 7 kali lipat produksi batubara di Kalteng. Padahal ketersediaan listrik daerah, sama sekali belum tercukupi.

Pembangunan jalur kereta ini juga bertujuan untuk mengangkut produksi batu bara ketimbang arus penumpang. Sebab, berdasarkan data BPS 2010, penduduk Kalteng hanya sebesar 2 juta jiwa tersebar di 14 kabupaten/kota.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement