Sabtu 28 Feb 2015 14:45 WIB

Jangan Ekploitasi Aceh Karena Batu Giok

batu giok Aceh, ilustrasi
Foto: saibumi,com
batu giok Aceh, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH -- Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), Ferry Mursyidan Baldan mengingatkan kepada masyarakat Aceh agar tak mengeksploitasi secara berlebihan lahan yang ada di Aceh, khususnya dalam penemuan Batu Giok, di Kabupaten Nagan Raya, Aceh.

"Kita tak bleh merusak atau mengelploitasi secara berlebihan. Kewajiban kita, kita tidak boleh menghabiskan potensi yang ada atas tanah bagi generasi ke depannya," kata Ferry, Sabtu (28/2).

Penemuan Batu Giok yang jumlahnya fantastis, yakni sebanyak 20 ton, akan menegaskan kehadiran negara dalam hal pertanahan, dengan mengamankan bongkahan Batu Giok itu di rumah dinas Ketua DPRK. Namun demikian, pemerintah Aceh harus memberikan penghargaan bagi penemu bongkahan Batu Giok, sementara masyarakat yang berada di sekitar penemuan Batu Giok harus mendapatkan bagian, baru masyarakat yang lainnya.

"Ini dilakukan agar tak ada konflik yang terjadi antara warga dengan pemerintah daerah," kata Ferry.

Usai penemuan batu giok itu, kata dia, Pemerintah Aceh bisa mendeteksi dengan perangkat teknologi canggih melihat kandungan tanah yang berada di bawahnya.

"Kalau sudah dideteksi daerah mana yang menghasilkan kandungan jenis batu yang lain, maka pemerintah Aceh patut menjelaskan kepada masyarakat dan melakukan pengaturan-pengaturan. Sehingga tidak semua orang berspekulasi untuk melakukan eksploitasi secara besar-besaran dan sembarangan," ujarnya.

Kalau tidak ada aturan, maka semakin lama tanah yang ada di Aceh akan rusak. "Pascatsunami, kandungan yang ada di bawah tanah Aceh luar biasa, yakni emas, uranium dan berbagai jenis batu. Pemerintah Aceh harus bisa mengontrol dengan baik dalam pengelolaan dan penggunaan lahan di Aceh," ujarnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement