REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON – Tingkat kebutuhan kedelai di Kabupaten Cirebon, tinggi. Namun, para petani di Kabupaten Cirebon enggan menanam kedelai dan lebih memilih menanam padi.
Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Cirebon Ali Efendi, menyebutkan, dari sekitar 40 ribu hektare lahan pertanian di Kabupaten Cirebon, areal tanaman kedelai hanya sekitar 500 hektare. Sedangkan lainnya, sebagian besar ditanami padi.
‘’Petani menilai menanam padi lebih menuntungkan dibandingkan menanam kedelai,’’ kata Ali, Selasa (10/9).
Ali menjelaskan, produktivitas padi rata-rata mencapai lima sampai enam ton per hektare. Dengan modal yang dikeluarkan petani sekitar Rp 7 juta untuk menggarap satu hektare lahan, maka uang yang bisa dihasilkan sebanyak Rp 18 juta – Rp 20 juta.
Sedangkan kedelai, lanjut Ali, produktivitasnya di Kabupaten Cirebon hanya sekitar satu ton per hektare. Selain itu, potensi keuntungannya pun sulit diperhitungkan karena tidak adanya kejelasan harga di pasaran.
‘’Mungkin sekarang harga kedelai lagi bagus, tapi pada saat normal harga kedelai bisa sangat rendah,’’ tutur Ali.
Tak hanya soal harga, lanjut Ali, produktivitas kedelai di Kabupaten Cirebon juga para petani di Kabupaten Cirebon juga dihadapkan pada tingginya resiko kegagalan produksi. Pasalnya, letak geografis Kabupaten Cirebon yang terletak di dataran rendah kurang cocok untuk budidaya kedelai.
‘’Jadi walau sekarang sedang terjadi krisis kedelai, namun kami sulit mendorong petani melakukan budidaya kedelai,” tambahnya.
Dihubungi terpisah, Kepala Bidang Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cirebon Supardi, menyebutkan, total kebutuhan kedelai di Kabupaten Cirebon mencapai 12.911 ton per tahun. Jumlah tersebut untuk memenuhi kebutuhan industri tempe dan tahu dengan total 906 unit usaha.
‘’Hasil produksi kedelai di Kabupaten Cirebon tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan industri tempe tahu,’’ kata Supardi.
Ketika disinggung mengenai aksi solidaritas para perajin tempe dan tahu yang mogok produksi secara nasional, Supardi menyatakan, akan berdampak pada sektor usaha lain. Seperti misalnya sektor kuliner yang menggunkan bahan utama tempe dan tahu.
Sementera itu, salah satu perajin tempe di Celancang Kabupaten Cirebon, Jack Tarno Slamet, mengatakan, telah sepakat dengan perajin lainnya untok mogok produksi pada 9-11 September 2013.
Bahkan, dia dan teman-teman seprofesinya menggelar sweeping di Pasar Celancang untuk memastikan tidak ada satupun pedagang yang bejrualan tahu dan tempe.
‘’Hasilnya, kami tidak menemukan satu pun pedagang yang membawa tahu dan tempe untuk dijual di pasar ini,’’ tegas Jack.
Jack mengungkapkan, harga kedelai saat ini sangat memberatkan para perajin dan pedagang tahu tempe. Apalagi, perajin dan pedagang tahu tempe tidak bisa menaikkan harga jual kepada konsumen.
Saat ini, harga kedelai mencapai sekitar Rp 10 ribu per kg. Padahal sebelumnya harga kedelai hanya Rp 7.400 per kg.
Selain di Pasar Celancang, aksi serupa juga dilakukan perajin dan pedagang tahu tempe di Pasar Perumnas Kota Cirebon. Mereka pun berkeliling di dalam pasar untuk mencari kemungkinan adanya pedagang yang berjualan tahu tempe.
''Tapi tidak ada satupun pedagang yang berjualan tahu dan tempe,'' tutur seorang pedagang tempe yang ikut sweeping, Sarmai.
Sarmai pun mendesak pemerintah untuk segera menurunkan harga kedelai. Pasalnya, hal tersebut menyangkut nasib para pedagang tahu tempe berskala kecil.