Senin 10 Oct 2011 17:45 WIB

Inilah Kronologi Penembakan di Timika

Ribuan karyawan PT. Freeport Indonesia melakukan longmarch ketika menggelar aksi unjuk rasa di Terminal Bis Gorong-gorong Timika, Papua, Senin (10/10). Aksi tersebut berakhir bentrok antara pengunjuk rasa dengan polisi.
Foto: Antara/Husyen Abdillah
Ribuan karyawan PT. Freeport Indonesia melakukan longmarch ketika menggelar aksi unjuk rasa di Terminal Bis Gorong-gorong Timika, Papua, Senin (10/10). Aksi tersebut berakhir bentrok antara pengunjuk rasa dengan polisi.

REPUBLIKA.CO.ID, TIMIKA - Seorang anggota Brimob dari Satuan Pelopor Mabes Polri yang bertugas sebagai anggota Satuan Tugas Pengamanan PT Freeport Indonesia, Briptu Jamil pada Senin petang ditemukan tewas. Tewasnya Briptu Jamil menambah jumlah korban meninggal dalam bentrokan antara aparat kepolisian dengan karyawan PT Freeport di Terminal Gorong-gorong Timika, Senin pagi.

Bentrokan bermula saat ribuan karyawan Freeport bersama istri dan anak-anak mereka melakukan konvoi jalan kaki dari Sekretariat SPSI PT Freeport di Jalan Perintis Kemerdekaan Timika Indah menuju Terminal Gorong-gorong.

Maksud kedatangan ribuan karyawan Freeport ke Terminal Gorong-gorong untuk meminta pihak manajemen menghentikan operasional perusahaan untuk sementara waktu sampai adanya penyelesaian kasus mogok kerja dan tuntutan kenaikan gaji karyawan.

Permintaan untuk penghentian sementara operasional PT Freeport tersebut merupakan salah satu rekomendasi surat Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) dan Majelis Rakyat Papua (MRP) dalam pertemuan di Jayapura pada Jumat (7/10).

Setiba di pintu masuk Terminal Gorong-gorong, karyawan meminta polisi untuk mengizinkan mereka masuk ke terminal namun ditolak polisi. Bahkan puluhan aparat kepolisian dengan tameng membendung massa untuk masuk ke lokasi terminal.

Massa lalu melempar aparat dengan batu sehingga polisi terpaksa mengeluarkan tembakan peringatan. Mendengar bunyi tembakan peringatan, massa makin beringas dengan melempar batu ke arah polisi yang bertahan di balik jeruji besi Terminal Gorong-gorong.

Melihat situasi yang kian tidak terkendali, polisi lalu menyemprot gas air mata ke arah massa. Tindakan itu juga tidak mampu membendung massa yang sudah dalam kondisi amarah.

Kapolres Mimika, AKBP Deny Edward Siregar, bersama Komandan Detasemen B Brimob Polda Papua, Kompol Yustanto, serta Komandan Satgas Pengamanan PT Freeport yang hendak memberi imbauan kepada karyawan bahkan nyaris terkena lemparan batu. Akhirnya, polisi mengeluarkan tembakan peluru tajam ke arah massa agar membubarkan diri.

Sebagian massa lari ke Jalan Freeport Lama di Kebun Siri Kelurahan Koperapoka menyeberangi bendungan samping Bandara Mozes Kilangin Timika menuju areal tanggul.

Massa lalu membakar empat buah mobil, tiga diantaranya mobil pengangkut peti kemas di ruas jalan dari Pelabuhan Portsite Amamapare menuju Tembagapura di sekitar Mil 26-27.

Massa juga menebang pohon-pohon pinus di pinggir jalan untuk menghalangi akses mobil dari Portsite Amamapare ke Tembagapura.

Sebagian mobil peti kemas yang tidak sempat dibakar ditinggal begitu saja oleh supirnya di pinggir jalan.

Sekitar pukul 12.00 WIT, puluhan aparat gabungan Brimob dan Polres Mimika masuk ke lokasi tanggul tempat massa melakukan pembakaran mobil.

Tiga orang anggota DPRD Mimika yakni Nurman Karupukaro, Yanes Natkime, dan Jimmy Erelak datang ke lokasi itu untuk menenangkan massa yang marah.

Massa menanam sebatang pohon yang dipasangi bendera merah putih di tengah untuk memisahkan polisi dari warga. Mereka juga memasang tenda terpal di lokasi itu.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement