JAKARTA -- Gelombang demonstrasi menuntut kenaikan upah dan perbaikan daya beli kembali mengguncang Prancis, Kamis (5/11/2026), dengan ratusan ribu orang turun ke jalan di berbagai kota. Aksi yang diwarnai bentrokan tersebut menyebabkan sedikitnya 448 orang ditangkap dan 53 petugas keamanan terluka, sementara pemerintah berupaya meredakan ketegangan melalui perundingan dengan serikat pekerja.
Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat sekitar 575 ribu orang mengikuti demonstrasi secara nasional, termasuk 65 ribu orang di Paris. Namun, serikat pekerja Confederation Generale du Travail (CGT) memperkirakan jumlah peserta jauh lebih besar, yakni hampir 1,6 juta orang di seluruh negeri, dengan sekitar 350 ribu demonstran di ibu kota.
Aksi tersebut menjadi salah satu mobilisasi besar dalam rangkaian protes sosial yang berlangsung sejak September 2026. Tuntutan para demonstran tidak hanya menyangkut kenaikan upah, tetapi juga biaya hidup, anggaran pendidikan, lapangan pekerjaan, dan kualitas pelayanan publik.
Kementerian Dalam Negeri melaporkan 448 penangkapan, 53 anggota aparat keamanan terluka, dan 86 insiden kebakaran hingga pukul 18.00 waktu setempat. Meski sebagian besar demonstrasi yang memperoleh izin berlangsung relatif damai, bentrokan terjadi di sejumlah kota, termasuk Paris, Lyon, Rennes, dan Toulouse.
Perkembangan tersebut mendorong Perdana Menteri Sebastien Lecornu mengambil langkah politik dengan mengumumkan konferensi sosial di kantor perdana menteri, Matignon, pada Senin (9/11/2026). Pertemuan itu akan melibatkan perwakilan serikat pekerja dan organisasi pengusaha untuk membahas kenaikan upah serta langkah menghadapi tekanan biaya hidup.
Polisi Tangkap 448 Demonstran
Aparat keamanan Prancis mengerahkan sekitar 70 ribu polisi dan gendarmerie untuk mengawal rangkaian demonstrasi pada Kamis. Pengerahan tersebut dilakukan setelah pemerintah mengantisipasi risiko kerusuhan menyusul bentrokan dan perusakan fasilitas dalam sejumlah aksi sebelumnya.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez sebelumnya menyampaikan bahwa pengamanan akan melibatkan satuan bergerak, kendaraan lapis baja, helikopter, serta perangkat pemantauan udara. Pemerintah juga memberlakukan pengaturan rute demonstrasi untuk mengurangi risiko gangguan keamanan di kawasan yang dianggap rawan.
Menurut Kementerian Dalam Negeri, sebagian besar peserta demonstrasi tetap menjalankan aksi secara tertib. Namun, bentrokan pecah ketika kelompok tertentu melakukan perusakan, membakar benda-benda di jalan, dan berhadapan dengan polisi.
Di Lyon, ketegangan meningkat setelah sekelompok orang berpakaian hitam bergabung dengan barisan demonstrasi dan menyerang aparat menggunakan proyektil. Pemerintah daerah Rhône melaporkan sejumlah tempat usaha serta fasilitas umum mengalami kerusakan akibat bentrokan tersebut.
Sedikitnya 40 orang terluka dalam insiden di Lyon, terdiri atas 34 anggota aparat keamanan dan enam peserta demonstrasi. Sebanyak 24 orang ditangkap di kota itu dengan dugaan keterlibatan dalam berbagai pelanggaran, termasuk pelemparan proyektil dan tindakan terhadap petugas.
Aparat menggunakan tindakan pengendalian massa untuk membubarkan kelompok yang dinilai melakukan kekerasan. Sementara itu, serikat pekerja mengkritik sejumlah tindakan aparat yang dianggap menghambat kegiatan demonstrasi dan membahayakan peserta aksi damai.
CGT secara khusus menyoroti insiden di Toulouse yang disebut menyebabkan sejumlah aktivis serikat mengalami luka. Organisasi tersebut menegaskan bahwa demonstrasi merupakan sarana menyampaikan tuntutan sosial yang harus tetap mendapatkan perlindungan.
Serikat Pekerja Klaim Hampir 1,6 Juta Orang Turun ke Jalan
Perbedaan perhitungan jumlah demonstran menjadi salah satu perhatian dalam aksi nasional tersebut. Kementerian Dalam Negeri memperkirakan 575 ribu peserta, sedangkan CGT dalam pernyataan resminya mencatat sekitar 1.573.000 orang menghadiri aksi di berbagai wilayah.
Di Paris, pemerintah menghitung sekitar 65 ribu demonstran, sementara CGT menyebut jumlahnya mencapai 350 ribu orang. Selisih yang besar itu menunjukkan perbedaan estimasi antara aparat negara dan penyelenggara aksi, tanpa adanya penghitungan independen yang disepakati kedua pihak.
Menurut CGT, sekitar 150 ribu orang mengikuti demonstrasi di Marseille dan 120 ribu orang berkumpul di Bordeaux. Serikat tersebut juga memperkirakan terdapat 100 ribu peserta di Lille, 80 ribu di Toulouse, serta 55 ribu di Lyon.
Organisasi buruh itu menyebut aksi 5 November sebagai gelombang mobilisasi kedelapan sejak 29 September 2026. Menurut CGT, demonstrasi tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap pemerintah terkait kondisi ekonomi pekerja dan pelayanan publik.
Sekretaris Jenderal CGT Sophie Binet menyatakan aksi mogok nasional memberikan dampak besar terhadap berbagai sektor. Ia mendesak pemerintah segera memenuhi tuntutan kenaikan upah dan memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat.
"Tidak ada yang dapat menghentikan kami," ujar Binet saat mengikuti demonstrasi di Paris, sebagaimana dikutip Anadolu Agency.
Binet menegaskan bahwa pekerja membutuhkan peningkatan pendapatan yang sejalan dengan biaya kebutuhan pokok. CGT juga menuntut kenaikan upah minimum sebesar 10 persen serta penyesuaian upah terhadap perkembangan harga.




