JAKARTA — Peta awal calon presiden pada Pemilu 2029 mulai memunculkan nama-nama kepala daerah dari Indonesia timur. Salah satunya Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid, yang masuk dalam survei Indonesia Political Opinion (IPO) dengan perolehan 0,2 persen pada pertanyaan terbuka atau top of mind calon presiden. Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah menilai gaya kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi munculnya nama Anwar dalam persepsi publik.
Survei IPO bertajuk Refleksi dan Evaluasi Publik: Dua Tahun Kabinet Merah Putih tersebut dilaksanakan pada 12–20 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.200 responden dari 38 provinsi. Penelitian menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Dalam pertanyaan top of mind, responden diminta menyebutkan secara spontan tokoh yang akan dipilih apabila pemilihan presiden dilaksanakan saat survei berlangsung.
Dedi mengatakan, hasil survei merekam kecenderungan masyarakat menyukai pemimpin yang dekat dengan rakyat, tidak elitis, dan mampu mengekspresikan kepedulian secara terbuka. Menurut dia, karakter kepemimpinan semacam itu menjadi salah satu faktor yang membuat nama Anwar Hafid muncul dalam ingatan sebagian responden.
“Gaya memimpin turut memengaruhi, tren yang terbangun sekarang adalah pemimpin yang dekat atau melebur bersama masyarakat, tidak elitis, dan ekspresif menunjukkan kasih sayang kepada rakyat,” kata Dedi saat dihubungi, Senin (26/10/2026).
Kemunculan Anwar dalam survei terbuka menunjukkan bahwa namanya disebut secara spontan oleh sebagian kecil responden tanpa disodorkan daftar kandidat. Meski demikian, angka 0,2 persen masih tergolong rendah dan belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya dukungan elektoral yang kuat secara nasional, terlebih pemilihan presiden berikutnya masih berjarak sekitar tiga tahun.
Dedi menjelaskan, munculnya tokoh-tokoh dari kawasan Indonesia timur dalam peta dukungan politik nasional bukanlah kecenderungan baru. Publik, menurut dia, melihat para tokoh dari kawasan tersebut memiliki identitas, konsistensi, dan kapasitas yang menjadi pertimbangan dalam menilai kepemimpinan.
Selain kedekatan dengan masyarakat, kesantunan Anwar Hafid juga menjadi aspek yang disoroti Dedi dalam menjelaskan persepsi publik. Ia menyebut norma kesopanan sebagai salah satu tolok ukur masyarakat dalam menilai seorang pemimpin, sekaligus memperkirakan perhatian terhadap tokoh-tokoh dari Indonesia timur masih dapat berkembang.




